Tony juga menegaskan jika nantinya harga tembaga lesu maka perseroan bakal tetap memproduksi dan menjual sesuai rencana yang ditetapkan.
“Soal harganya, ya kita kalau harganya tinggi ya syukur. Kalau harganya rendah juga kita tetap saja melakukan sesuai dengan rencana penambangannya. Jadi bukan berarti kalau harga tinggi terus kemudian kita produksi lebih tinggi,” tegas dia.
Sekadar catatan, PTFI menargetkan penjualan tembaga sebesar 1,1 miliar pon atau sekitar 480.000 ton serta emas sebesar 0,83 juta ons atau sekitar 26 ton pada 2026.
Target penjualan tembaga tahun ini turun 8,33% dibandingkan dengan volume penjualan tembaga pada 2025 tercatat sebesar 1,2 miliar pon.
Sementara itu, target penjualan emas tahun ini anjlok 20,95% dibandingkan dengan penjualan 1,05 juta ons pada 2025.
Sepanjang kuartal I-2026, Freeport telah menjual tembaga sebanyak 82 juta pon, turun 71,7% dari periode yang sama pada tahun lalu sejumlah 290 juta pon.
Dari sisi produksi, jumlah tembaga yang diproduksi PTFI pada kuartal I-2026 mencapai 95 juta pon atau turun 67,9% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu sebanyak 296 juta pon.
Harga rata-rata penjualan tembaga pada kuartal I-2026, padahal, tercatat US$5,89/pon atau naik 35,7% dari periode yang sama pada 2025.
Dari sisi produksi emas, pada kuartal I-2026 Freeport Indonesia memproduksi emas sebanyak 92.000 ons atau turun 67,6% dari periode yang sama pada tahun lalu sejumlah 284.000 ons.
Penjualan emas pada awal tahun ini tercatat mencapai 116.000 ons atau turun 7,2% dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025 sebanyak 125.000 ons.
Dari segi harga rata-rata penjualan emas, pada periode I-2026 tercatat sebesar US$4.893/ons atau naik 59,3% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Tembaga dilego di harga US$13.515,50/ton di London Metal Exchange (LME) hari ini, turun 0,73% dari penutupan hari sebelumnya.
Perdagangan tembaga telah terhambat tahun ini karena biaya energi dan inflasi meningkat akibat perang di Timur Tengah.
Sementara itu, tenggat Juni bagi pemerintahan Presiden Donald Trump untuk membuat keputusan baru tentang peluncuran tarif impor Amerika Serikat (AS) telah menghidupkan kembali aliran logam ke negara tersebut, menguras pasokan di tempat lain.
Persediaan tembaga di gudang yang dipantau oleh Bursa Berjangka Shanghai turun menjadi 169.512 ton pada Jumat, level terendah tahun ini, menunjukkan bahwa pembelian tetap mendukung di China karena permintaan untuk elektrifikasi. Adapun, tembaga banyak digunakan dalam kabel dan peralatan listrik.
(azr/wdh)































