Logo Bloomberg Technoz

“YLKI mendesak Pertamina dan Pemerintah membuka secara lebih terperinci formula dan komponen pembentuk harga,” lanjut dia.

Komunikasi Publik

Rio memandang keputusan pengumuman kenaikan harga Pertalite yang dilakukan Selasa (10/6/2026), menunjukkan perlunya evaluasi terhadap tata kelola komunikasi publik.

Dia mendorong ditetapkannya standar pemberitahuan yang lebih transparan dan terukur untuk setiap penyesuaian harga yang berdampak luas terhadap masyarakat.

“Sehingga hak konsumen atas informasi dapat terlindungi dengan lebih baik,” tegas Rio.

Untuk itu, Rio memandang kenaikan harga tersebut perlu dibarengi dengan peningkatan kualitas layanan yang diberikan Pertamina.

Dia mendesak Pertamina agar masyarakat memperoleh jaminan kualitas BBM, kemudahan akses, keandalan distribusi, akurasi takaran, serta pelayanan yang lebih baik.

“Konsumen tidak boleh hanya diminta menerima kenaikan harga tanpa memperoleh peningkatan manfaat dan kualitas layanan yang sepadan,” ungkap Rio.

Lebih jauh, YLKI juga meminta pemerintah mewaspadai terjadinya migrasi konsumsi dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi atau Pertalite.

Dia khawatir disparitas harga Pertamax dengan Pertalite yang tembus Rp6.250/liter bakal menimbulkan lonjakan permintaan BBM bersubsidi yang berujung pada antrean panjang, pembatasan distribusi, atau kelangkaan BBM.

“Jangan sampai masyarakat yang memang berhak memperoleh BBM subsidi justru menjadi pihak yang paling dirugikan,” kata Rio.

Rio turut mewaspadai efek berantai kenaikan harga Pertamax terhadap biaya transportasi, distribusi barang, dan pengeluaran rumah tangga.

Dia menilai kelompok masyarakat kelas menengah menjadi kelompok yang paling terdampak karena tidak menikmati subsidi BBM namun harus menanggung kenaikan biaya energi.

“Untuk itu, pemerintah perlu mengantisipasi dampak inflasi dan menjaga stabilitas pasokan serta harga BBM yang menjadi penopang aktivitas ekonomi masyarakat,” kata Rio.

Kemarin, PT Pertamina Patra Niaga (PPN) mengungkapkan kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300/liter menjadi Rp16.250/liter dilakukan setelah berkoordinasi dengan pemerintah dan mengevaluasi harga minyak dunia serta harga pasar keekonomian.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menjelaskan, penyesuaian harga BBM nonsubsidi mengikuti aturan yang berlaku.

“Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal,”  kata Roberth dalam siaran pers, Rabu (10/6/2026).

Dia juga mengungkapkan harga BBM bersubsidi jenis bensin dan solar atau Pertalite serta Solar, tetap ditahan harganya masing-masing Rp10.000/liter dan Rp6.800/liter.

Adapun, PT Pertamina Patra Niaga sempat mengonfirmasi harga keekonomian Pertamax sudah menembus sekitar Rp17.000-an/liter, ketika harga minyak dunia mengamuk.

Akan tetapi, atas hasil diskusi dengan pemerintah, perseroan memutuskan menahan harga Pertamax di level Rp12.300/liter sejak April.

Daftar Harga BBM Pertamina di Pulau Jawa:

  • Pertamax: Rp16.250/liter
  • Pertamax Turbo: Rp20.750/liter
  • Pertamax Green 95: Rp17.000/liter
  • Dexlite: Rp23.000/liter
  • Pertamina Dex: Rp24.800/liter
  • Pertalite: Rp10.000/liter
  • Solar: Rp6.800/liter

(azr/wdh)

No more pages