Langkah agresif BI ini juga sekaligus meredakan sentimen terkait independensi BI yang pada kuartal pertama tahun ini sempat mengemuka di kalangan investor.
Sebagian analis mengatakan bahwa kenaikan BI Rate 25 bps belum cukup kuat untuk membalikkan sentimen negatif terhadap rupiah. Menurut Ekonom UOB, Enrico Tanuwijaya dan Vincentius Ming Shen, BI masih harus menaikkan suku bunga hingga 50 bps lagi pada rapat resmi 18 Juni mendatang, dan berpotensi membawa BI Rate ke 6,5% pada akhir tahun.
Senada, Ekonom Bloomberg Economics Tamara Henderson, memperkirakan BI perlu menaikkan suku bunga sebesar 75 bps pada Rapat Dewan Gubernur (RDG), yang dijadwalkan pada 18 Juni mendatang, agar dapat secara nyata memperlambat laju depresiasi rupiah.
Namun, Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, memiliki pandangan berbeda. Jika intervensi yang dilakukan Kementerian Keuangan dan BI di pasar surat utang dapat meredam volatilitas rupiah dan menjaga pergerakannya di rentang Rp17.500-Rp17.900/US$ sepanjang pekan hingga RDG mendatang, maka BI berpotensi menahan BI Rate di angka 5,5%.
(dsp/aji)




























