Penguatan rupiah bisa dibaca sebagai respons atas pengetatan moneter yang dilakukan BI. Suku bunga acuan naik 25 basis poin (bps) ke 5,5%.
Lima Faktor Penguatan Rupiah
Perry menjelaskan terdapat lima faktor utama yang diyakini akan menopang penguatan rupiah pada 2027.
Faktor pertama adalah prospek perbaikan ekonomi global. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia mencapai 3,1% pada 2027, yang diharapkan dapat mendorong arus modal masuk ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Tentu saja kondisi-kondisi yang sekarang geopolitik kita harapkan akan naik dan harapannya akan mendorong inflow ke negara emerging market termasuk Indonesia,” ujar Perry.
Faktor kedua adalah fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai tetap kuat. Perry menuturkan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,61% pada triwulan I-2026, inflasi terjaga dalam sasaran 2,5% ± 1%, defisit transaksi berjalan rendah, imbal hasil investasi menarik, serta cadangan devisa berada pada level yang memadai.
“Jadi fundamental kita akan mendukung penguatan nilai tukar rupiah,” tuturnya.
Faktor ketiga adalah peran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dalam memperkuat tata kelola ekspor nasional. Menurut Perry, optimalisasi pengelolaan ekspor akan meningkatkan pencatatan transaksi devisa hasil ekspor (DHE), memperkuat cadangan devisa, dan mendukung stabilitas nilai tukar.
“(DSI) tidak hanya mendukung pembiayaan bagi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mendukung kenaikan cadangan devisa, dan penguatan nilai tukar rupiah,” ucap Perry.
Faktor keempat berasal dari komitmen BI dalam menjaga stabilitas rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan moneter. Bank sentral akan terus meningkatkan intensitas operasi moneter baik dalam rupiah maupun valuta asing.
Penguatan operasi moneter rupiah dilakukan melalui penyelenggaraan lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebanyak dua kali dalam sepekan. Sementara itu, operasi moneter valuta asing diperkuat melalui intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri.
Faktor kelima adalah penguatan koordinasi antara kebijakan moneter dan fiskal. Sinergi tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar, meningkatkan daya tarik investasi portofolio asing, serta memastikan kecukupan likuiditas dalam sistem keuangan.
“Jadi lima faktor itu rupiah insyaallah tahun depan akan menguat kisarannya Rp16.800 sampai Rp17.500,” jelas Perry.
(lav)


























