Sementara itu untuk bea masuk mencatatkan kenaikan sebesar 9,7% secara year-on-year menjadi sebesar Rp21,5 triliun.
“Bea masuk masih terjaga pertumbuhannya di dorong peningkatan biaya masuk dari impor bahan baku dan bahan penolong yang tumbuh 10,67%,” lanjut Purbaya.
Menurut Purbayam hal ini mengindikasikan adanya aktivitas manufaktur yang sedang meningkat di Indonesia. Purbaya menyebut bahwa hal ini inline dengan besaran angka Produk Domestik Bruto yang meningkat menjadi 5,61% pada kuartal I-2026.
Sementara untuk bea keluar di sepanjang Mei 2026 mencatatkan penurunan sebesar 8,9% ke angka Rp11,9 triliun. Purbaya menyebut bahwa meskipun mengalami kontraksi, namun bea keluar ini mencatatkan perbaikan seiring dengan penguatan harga crude palm oil.
(ell)





























