Mata uang dolar AS, yang menjadi aset aman pilihan utama sejak konflik Timur Tengah pecah, menguat terhadap seluruh mata uang negara-negara G-10. Di sisi lain, harga obligasi pemerintah AS (Treasury) jatuh pada hari Jumat setelah data pekerjaan memperkuat taruhan bahwa langkah kebijakan suku bunga The Fed berikutnya adalah kenaikan (rate hike).
Koreksi massal saham global ini menjadi pukulan terbesar dalam beberapa bulan terakhir bagi tren pasar bullish, yang sebenarnya telah berjalan sejak akhir Maret lalu ketika negosiasi untuk mengakhiri perang di Iran mulai menunjukkan keseriusan. Di tengah kekhawatiran atas inflasi dan tingginya harga minyak, para investor kini mulai meragukan keberlanjutan keuntungan dari sektor AI. Muncul keraguan di pasar apakah reli saham tersebut sudah berjalan terlalu jauh dan terlalu cepat.
"Bagi kami, ini berpotensi menjadi awal dari penurunan yang signifikan, meskipun bukan berarti akhir dari tren bull market ini," tulis Matt Maley, kepala strategi pasar di Miller Tabak. "Dalam jangka panjang, kami percaya bahwa kita sedang berada di dalam gelembung besar yang pada akhirnya akan berakhir sangat buruk."
Pada hari Jumat pekan lalu, rekor mingguan historis Wall Street resmi terhenti seiring meningkatnya momentum aksi jual saham teknologi. Pasar saham juga menghadapi risiko yang kian tinggi dengan kesiapan membanjirnya kesepakatan-kesepakatan besar di bidang AI ke dalam pasar.
Indeks Nasdaq 100 ambles 4,8%, sementara kecemasan yang meningkat terkait valuasi saham membuat indeks S&P 500 turun 2,6%. Penurunan ini sekaligus menggagalkan ambisi S&P 500 untuk mencetak kemenangan mingguan selama 10 pekan berturut-turut. Sementara itu, indeks industri pembuat cip (chipmakers) jatuh hingga 10%.
Dari Korea Selatan, pemerintah setempat dilaporkan mulai menyiapkan serangkaian langkah intervensi untuk meredam tekanan terhadap mata uang won setelah nilainya merosot ke level terlemahnya sejak tahun 2009.
Dari panggung geopolitik, Iran terpantau menembakkan beberapa gelombang rudal ke arah Israel, di saat Presiden Trump tengah berupaya keras mempertahankan gencatan senjata yang kian rapuh dalam konflik 100 hari AS dengan Teheran. Hingga kini, AS dan Iran tampaknya masih belum menunjukkan kemajuan berarti menuju kesepakatan damai sementara demi mengakhiri perang yang dipicu oleh Washington dan Israel sekitar 100 hari yang lalu.
Faktor lain yang menjadi pertimbangan krusial bagi para investor adalah rilis laporan data ketenagakerjaan AS yang kokoh.
Meski data ekonomi hari Jumat tersebut membawa banyak kabar positif, angka-angka yang keluar muncul di saat risiko inflasi sedang menguji kebijakan The Fed. Pertumbuhan lapangan kerja AS pada bulan Mei melampaui semua prediksi pengamat dan tingkat pengangguran bertahan stabil di angka 4,3%. Data ini menjadi sinyal paling jelas bahwa pasar tenaga kerja AS kemungkinan besar mulai keluar dari periode kelesuan perekrutan yang sempat berlangsung lama.
Tingkat imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 2 tahun, yang paling sensitif terhadap perubahan kebijakan bank sentral AS, melonjak 10 basis poin pada hari Jumat ke posisi 4,15%. Pasar kontrak swap suku bunga menunjukkan bahwa para pelaku pasar memperkirakan adanya kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuan kebijakan bulan Desember, dengan probabilitas perpindahan instrumen sekitar 60% pada bulan Oktober mendatang.
Perhatian pasar global kini tertuju pada pertemuan para penentu kebijakan The Fed pada 16-17 Juni mendatang, yang akan dipimpin oleh Gubernur The Fed yang baru, Kevin Warsh.
Beberapa pergerakan utama pasar:
Saham
- Kontrak berjangka S&P 500 relatif tidak berubah pada pukul 09.05 waktu Tokyo.
- Kontrak berjangka Hang Seng turun 1,4%.
- Indeks Topix Jepang turun 1%.
Mata Uang
- Indeks Bloomberg Dollar Spot relatif tidak berubah.
- Euro stabil di US$1,1523.
- Yen Jepang stabil di 160,28 per dolar AS.
- Yuan offshore stabil di 6,7887 per dolar AS.
Kripto
- Bitcoin naik 2,2% menjadi US$63.181,45.
- Ether naik 3,5% menjadi US$1.684,87.
Obligasi
- Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik satu basis poin menjadi 4,54%.
- Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun tidak berubah di 2,665%.
Komoditas
- Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,2% menjadi US$92,57 per barel.
- Emas spot naik 0,4% menjadi US$4.343,97 per ons.
Artikel ini dibuat dengan bantuan Bloomberg Automation.
(bbn)


























