Logo Bloomberg Technoz

Tak hanya plastik, dia menyebut harga minyak goreng curah sampai Minyakita juga mengalami kenaikan. Minyakita saat ini dibanderol Rp21.000 per liter di tokonya, dengan harga sebelumnya yakni Rp16.700 per liter.

“[Harga] minyak drastis, minyak naik banget. Semua [naik], curah, mau minyak rakyat aja yang Minyakita, itu naiknya itu luar biasa,” kata Albani.

Selain itu, dia mengatakan harga komoditas cabai ikut melonjak. Cabai merah keriting kini dijual Rp50.000-Rp55.000 per kilogram (kg), sementara cabai rawit berkisar Rp80.000-Rp90.000 per kg.

Kemudian Albani mengungkapkan omzet kotornya sekarang menurun kurang lebih 30% setiap harinya akibat pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Jumlah pembelinya pun ikut berkurang atau hanya sekitar 50 orang per hari. Akan tetapi, Albani menyebut omzet kotornya sempat naik saat Hari Raya Idul Adha 2026.

“Sebelum Idul Adha, semenjak plastik naik, semuanya pasar sepi lah. Pas Idul Adha, kebetulan orang kebutuhan masak kan, di situ lah kita memanfaatkan itu, momen. Habis Idul Adha ya gini lagi,” tutur dia.

Untuk omzet kotor, Albani mengatakan hanya memperoleh sekitar Rp10 juta per hari. Namun jumlah tersebut bisa menyentuh belasan juta setiap harinya sebelum adanya konflik antara Iran dengan AS dan Israel di kawasan Timur Tengah.

“Kalau sekarang 10-an [juta rupiah] kurang, enggak nyampe 10 [juta rupiah per hari omzet kotornya],” kata Albani.

 Dia juga berharap pemerintah Indonesia bisa menstabilkan harga barang termasuk sembako agar daya beli masyarakat membaik serta pasar tradisional kembali ramai calon pembeli. “Kalau harapannya sih ya semoga aja pemerintah itu yang bener, peperangan berakhir lah,” ucap Albani.

Keluhan Albani pun dirasakan oleh pedagang daging sapi, Imam. Pria yang sudah berjualan di Pasar Pondok Labu nyaris dua dekade itu menilai kini harga daging sapi terbilang mahal.

Imam menjual daging sapi seharga Rp150 ribu per kg, sementara iga sapinya dibanderol Rp100.000 per kilogram. Menurut dia, rupiah melemah terhadap dolar AS berdampak pada kenaikan harga daging sapi.

Pria berumur 42 tahun tersebut meminta Presiden Republik Indonesia (RI) Prabowo Subianto untuk memberikan solusi terhadap pelemahan rupiah. Imam juga memandang program makan bergizi gratis (MBG) berpengaruh pada kenaikan harga daging sapi. 

Oleh karena itu, dia menyarankan supaya pemerintah menghentikan program tersebut. “Makanya bilangin sama Prabowo, itu solusinya gimana, kok bisa parah banget, dolar naik. Saya rasa MBG mah stop dulu dah, itu ngaruh, ngaruh semua,” kata Imam di kiosnya, Jumat.

Dia berujar kenaikan harga daging sapi juga terjadi pasca-Iduladha tahun ini, yang menyentuh Rp150 ribu per kg. Sebelum hari raya tersebut, Imam menjualnya seharga Rp140.000 per kilogram.

“Saran saya mah MBG stop dulu dah, itu ngaruh, dari mana MBG dananya kalau bukan dari pajak? Imbasnya kita. Larinya ke MBG, ya kita kena imbasnya, pasar,” ucap dia. 

Sama halnya dengan Albani, Imam mengaku omzet kotornya turun setiap hari di tengah pelemahan rupiah. Kini, dia hanya mengantongi Rp2 juta per hari. Menurut Imam, program makan bergizi gratis juga mempunyai dampak terhadap omzetnya per hari.

“Biasanya sebelum MBG ada, ya minimal mah 6 juta [rupiah per hari]. Kan dibilang, gegara MBG ngaruh,” jelas dia.

Senada dengan Albani, Imam juga mengatakan daya beli masyarakat saat ini turun signifikan. Setiap harinya penjualan daging sapi hanya mencapai 30 kilogram, biasanya bisa menembus 50-60 kg per hari.

“Jarang [yang beli daging sapi], itu yang mampu aja, yang butuh-butuh banget, kalau enggak butuh, enggak beli,” ujar Imam.

Tak hanya Albani, pemilik toko plastik bernama Amar Syadad menyebut omzet kotornya turun akibat konflik Iran dengan AS-Israel di Timur Tengah. Hal ini dikarenakan Indonesia masih memiliki ketergantungan impor bahan baku plastik dari kawasan tersebut. Meski begitu, dia mengeklaim harganya kini mulai agak stabil karena RI telah mengimpor bahan baku plastik dari Cina.

Terkait omzet kotornya, pria berusia 25 tahun dan sudah berjualan di Pasar Pondok Labu hampir tiga tahun itu mengatakan total omzetnya di atas Rp5 juta per hari ataupun terkadang di bawahnya.

“Kalo hari libur itu justru lebih [menurun], tergantung, sepi gitu, Karena kan enggak ada daya aktivitas juga kan dari masyarakat itu,” kata Amar.

Namun dia mengeklaim pelemahan rupiah terhadap dolar AS tak berpengaruh pada harga plastik, melainkan perang Iran melawan AS-Israel yang mempunyai pengaruh. Saat adanya konflik negara-negara tersebut, harganya melonjak hingga nyaris 60%. 

“Cuman untuk daya beli, menurun sih sedikit tapi enggak terlalu impact (berdampak) banget lah karena masih, orang Indo (Indonesia) itu kan masih suka pake plastik gitu. Kalau harapannya sih, [pemerintah] lebih ke menstabilkan kesejahteraan aja lah ya supaya tidak terlalu berantakan, kacau,” tandas Amar. 

Di samping itu, diberitakan sebelumnya, rupiah menutup perdagangan pada Jumat, dengan penguatan terbatas 0,07% di posisi Rp18.020 per dolar AS, seusai paginya melemah 0,23% dalam sesi pembukaan perdagangan. Namun mata uang Indonesia tersebut yang belum mampu keluar dari zona Rp18.000 per dolar AS menandakan adanya tekanan kuat yang masih membebani pergerakannya. 

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) RI Prasetyo Hadi mengeklaim pemerintah amat intens membahas ihwal kondisi rupiah dengan otoritas fiskal-moneter dan pelaku ekonomi. “Lho, kita rapatnya intens. Pertemuan antara pelaku-pelaku otoritas ekonomi itu intens,” kata dia kepada awak media di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu (06/06/2026).  

Menurut Prasetyo, meskipun rupiah belakangan terus melemah, bukan berarti komunikasi yang dilakukan pemerintah dengan otoritas fiskal dan moneter tak dijalankan. Dia pun menilai pelemahan rupiah yang terjadi akhir-akhir ini dipengaruhi oleh berbagai faktor.

“Kemandirian kita secara ekonomi itu juga mempengaruhi kekuatan mata uang kita gitu. Ada beberapa yang masih ketergantungan impor itu juga akan mempengaruhi. Makanya ini tidak bisa berdiri sendiri begitu,” kata Prasetyo.

(far/del)

No more pages