Keseluruhan saham membukukan pelemahan. Paling dalam adalah saham–saham transportasi, saham keuangan, dan saham energi yang runtuh mencapai 4,44%, 4,07%, dan 3,93%. Menyusul saham infrastruktur, dan saham konsumen non–primer yang masing–masing melemah 3,87%, dan 3,26%.
Di sisi bersamaan dengan itu, sejumlah saham mencatat pelemahan luar biasa dan menjadi top losers. Di antaranya adalah saham PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC) yang amblas 14,8%, PT WEHA Transportasi Indonesia Tbk (WEHA) jatuh 14,7%, hingga saham PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) ambruk 14,5%.
Bursa Saham Asia juga terbenam di zona merah. Namun IHSG mengalami kejatuhan paling dalam.
KOSPI (Korea), TAIEX (Taiwan), CSI 300 (China), Hang Seng (Hong Kong), NIKKEI 225 (Jepang), Shenzhen Comp. (China), Shanghai Comp. (China), FTSE Straits Times (Singapura), dan SETI (Thailand), yang melemah masing–masing 5,41%, 1,33%, 1,24%, 1,14%, 1,1%, 0,64%, 0,37%, 0,19%, dan 0,16%.
Terlebih lagi, melansir data yang sama dihimpun Bloomberg, IHSG menjadi indeks saham terlemah di Bursa Asia sepanjang tahun 2026. Sejak awal tahun, IHSG mencatatkan penurunan sebesar 34,17% year–to–date.
Rupiah All Time Low (ATL)
Dari dalam negeri, depresiasi rupiah menjadi sentimen negatif yang amat berat bagi IHSG. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah terus–menerus lesu di hadapan dolar Amerika Serikat (AS).
Pada perdagangan siang hari ini di pasar spot per 13:30 WIB, US$ 1 setara dengan Rp18.042. Rupiah melemah 0,05% point–to–point.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terjerumus hingga menyentuh level terlemah di sesi intraday mencapai Rp18.074/US$ sekaligus merupakan All Time Low baru terhadap dolar AS.
Sepanjang tahun 2026 rupiah menjadi mata uang terlemah di Asia dengan depresiasi 7,49% year–to–date.
Adapun rupiah melemah ditengarai terimbas kekhawatiran defisit fiskal dan neraca transaksi berjalan. Neraca Pembayaran Indonesia per Kuartal I-2026 mencatat defisit US$9,15 miliar, lebih dalam dari defisit kuartal sebelumnya US$6,07 miliar.
Transaksi berjalan juga mencatat defisit mencapai US$4 miliar atau 1,1% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Turun tajam dibanding kuartal sebelumnya yang masih surplus US$2,5 miliar. Artinya, dalam satu kuartal saja terjadi perubahan US$6,5 miliar.
Selain itu, ketidakpastian dan inkonsistensi kebijakan juga masih jadi perhatian investor dengan tingginya premi risiko yang dibebankan pada aset keuangan RI.
Terlebih lagi pada pasar Surat Utang Negara (SUN). Imbal hasil di hampir semua tenor, baik pendek, menengah dan panjang, selaras bergerak menguat, menandakan investor banyak melepas kepemilikannya dalam aset obligasi dalam negeri.
Inversi yield juga masih terjadi di mana yield tenor 1 tahun jauh lebih tinggi mencapai 7,18% dibanding dengan tenor 10 tahun yang hanya 6,85%. Tenor 2 tahun pun sebesar 6,94%, dengan yield tenor 16 tahun 6,98%, dan tenor 20 tahun sebesar 6,98%, hingga 40 tahun 6,92% dalam kondisi struktur kurva yang tak lagi menanjak secara normal.
Dalam kondisi normal, situasinya seharusnya berkebalikan. Investor biasanya meminta kompensasi lebih besar untuk mengunci dana dalam jangka waktu yang lebih lama karena risiko yang dihadapi juga lebih besar.
Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede mengatakan, kondisi SUN yang mulai menunjukkan kurva imbal hasil terbalik perlu dibaca sebagai sinyal tekanan pasar jangka pendek yang serius.
“Jika kurva menjadi terbalik, artinya pasar lebih khawatir terhadap risiko jangka pendek, terutama kebutuhan likuiditas, arah BI Rate, risiko arus modal keluar, dan kebutuhan pemerintah menerbitkan SBN di tengah pasar yang rapuh,” mengutip paparan Josua, Jumat (5/6/2026).
(fad)



























