Logo Bloomberg Technoz

Sebelumnya dalam laporan Bloomberg News, Rabu (3/6/2026), Asosiasi Transportasi dan Distribusi Batu Bara China (CCTD) mengatakan bahwa sejumlah pembeli China telah menunda impor Juni 2026 menyusul rencana Indonesia untuk memusatkan ekspor beberapa komoditasnya, termasuk batu bara.

Dalam laporan tersebut juga disebut bahwa aturan ekspor batu bara via PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), yang berlaku mulai 1 Juni, telah memperlambat proses transaksi, mendorong kenaikan harga, dan memperketat pasokan, menurut Ma Yanxu, seorang analis CCTD.

Di sisi lain, Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) menegaskan belum mendapat informasi terkait penundaan ekspor ke China. Ia menyebut kendala bisa saja terjadi pada pembeli China, bukan pada eksportir Indonesia. 

“Harus kita cek dulu apakah di Chinanya ada trouble atau seperti apa, kita harus cek. Apakah itu berhubungan, karena statusnya kan postpone. Tapi enggak ada juga pertanyaan ke kita apakah berhubungan dengan DSI atau ekspor segala macem,” kata Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani, di sela Indonesia Critical Minerals Conference, Kamis (5/6/2026). 

Dia menambahkan bahwa penjualan batu bara yang berasal dari anggotanya masih berlangsung normal sesuai dengan kontrak yang berlaku. 

“Ekspor masih berjalan seperti biasanya, karena kita sudah tanya ke anggota kita, tidak ada seperti itu. Kalau misalnya sifatnya di sana [China] yang bilangnya ditunda, enggak ada sih sejauh ini,” ungkap Gita.

Sekadar catatan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat volume ekspor batu bara sepanjang Januari—April 2026 mencapai 114,54 juta ton atau turun 6,7% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu sebesar 122,76 juta ton.

Berdasarkan nilainya, ekspor batu bara anjlok 7,27% secara tahunan menjadi US$7,57 miliar, dari periode yang sama pada tahun lalu senilai US$8,17 miliar.

Deputi Statistik Bidang Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengungkapkan ekspor batu bara atau HS2701 pada Januari 2026 mencapai US$1,82 miliar, Februari 2026 sebesar US$1,66 miliar, Maret 2026 sebesar US$2,03 miliar, dan April 2026 sebesar US$2,1 miliar.

Berdasarkan negara tujuannya, pada Januari hingga April 2026 ekspor batu bara terbesar tercatat menuju India, China, dan Jepang.

“Ekspor batu bara atau HS2701 selama Januari hingga April 2026 adalah sebagai berikut ya Januari US$1,82 miliar, kemudian Februari US$1,66 miliar, kemudian Maret US$2,03 miliar, dan April US$2,1 miliar,” kata Pudji dalam konferensi pers, Selasa (2/6/2026).

Sekadar catatan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi produksi batu bara Indonesia sepanjang Januari hingga April 2026 mencapai 229 juta ton atau sekitar 38,2% dari kuota produksi sekitar 600 juta ton.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengungkapkan sekitar 145 juta ton dari produksi batu bara Indonesia diserap untuk pasar ekspor.

Sisanya, sekitar 84 juta ton, batu bara Indonesia digunakan untuk memenuhi kewajiban wajib pasok domestik atau domestic market obligation (DMO).

“Untuk realisasi [hingga April] 2026 ini pada saat ini adalah sebesar 229 juta ton dengan DMO 84 juta ton dan sisanya dilakukan ekspor atau sekitar 145 juta ton,” kata Tri dalam RDP di Komisi XII DPR, Selasa (19/5/2026).

(azr/ros)

No more pages