Logo Bloomberg Technoz

Langkah tersebut antara lain melalui peningkatan granularitas data hingga penyampaian informasi terkait konsentrasi kepemilikan saham, yang diharapkan berujung pada kembalinya kepercayaan investor terhadap bursa saham domestik.

"Ya, tentu dari yang sudah kami lakukan itu semuanya tujuannya adalah untuk memulihkan kepercayaan dari investor, baik investor domestik maupun investor global," tutur Jeffrey.

Krisis Kepercayaan

Sejumlah analis menilai, upaya transformasi yang dilakukan regulator pasar modal saat ini belum sepenuhnya mampu mengimbangi kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan pemerintah.

Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata menilai isu utama yang saat ini membebani persepsi investor bukan lagi semata-mata persoalan pertumbuhan ekonomi, melainkan aspek tata kelola (governance) dan kredibilitas kebijakan (policy credibility).

"Moody's dan Fitch telah menempatkan Indonesia pada outlook negatif. Pasar juga mulai berspekulasi mengenai kemungkinan langkah serupa dari S&P Global Ratings. Kekhawatiran utama bukanlah pertumbuhan ekonomi, melainkan meningkatnya persepsi risiko terhadap kualitas institusi, arah kebijakan dan pengambilan keputusan," tulis Liza dalam risetnya.

Menurut dia, pasar juga mencermati meningkatnya leadership risk dan policy communication risk. Dalam beberapa bulan terakhir, perhatian investor tidak lagi hanya tertuju pada kondisi fiskal, nilai tukar rupiah, maupun pasar modal, tetapi juga pada bagaimana pemerintah merespons tekanan pasar dan mengkomunikasikan kebijakan ekonomi.

"Sejumlah pelaku pasar mulai mempertanyakan apakah stabilitas pasar keuangan masih menjadi prioritas utama di tengah berbagai agenda strategis pemerintah," ujar Liza.

Akibatnya, muncul kekhawatiran bahwa ketidakpastian arah kebijakan dan komunikasi yang kurang meyakinkan dapat memperpanjang krisis kepercayaan investor meskipun fundamental ekonomi belum menunjukkan tekanan yang sebanding. Selain itu, pasar juga masih mencermati implementasi sejumlah kebijakan baru seperti DHE SDA dan ekspor melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI).

Pandangan serupa disampaikan Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan juga mengaitkan tekanan pada aset Indonesia dengan melemahnya prediktabilitas kebijakan pemerintah.

"Sikap pemerintah yang kurang konsisten tercermin dalam weaker policy predictability yang memicu kenaikan premi risiko Indonesia," kata Erindra.

Ia mencontohkan perubahan kebijakan royalti pertambangan (mining royalty flip-flops) serta rencana ekspor satu pintu melalui BUMN (single-SOE export plan) sebagai faktor yang meningkatkan ketidakpastian di mata investor.

"Kekhawatiran pasar yang belum terselesaikan terkait kepastian regulasi ini, ditambah dengan rencana pengeluaran pemerintah yang tinggi, pada akhirnya turut menekan sentimen terhadap aset-aset di Indonesia," ujar Erindra.

(dhf)

No more pages