Logo Bloomberg Technoz

Ia menjelaskan bahwa saat ini Rupiah sudah menembus Rp18.000 untuk pertama kalinya karena kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal, risiko penurunan peringkat utang, dan aksi jual saham; pada saat yang sama IHSG melemah dan imbal hasil SBN 10 tahun naik.

Hal Ini menurutnya menunjukkan bahwa tekanan rupiah sudah bergeser dari sekadar tekanan kurs menjadi tekanan kepercayaan lintas pasar.

“Namun, RDG darurat bukan sekadar soal menaikkan suku bunga lagi. BI sudah menaikkan BI Rate 50 basis poin menjadi 5,25% pada Mei, tetapi rupiah tetap melemah hingga menembus Rp18.000,” kata Josua.

Apalagi menurutnya, tekanan rupiah masih dapat berlanjut meskipun BI Rate sudah menjadi yang tertinggi di antara beberapa negara berkembang utama Asia, karena tekanan utama berasal dari kombinasi dolar AS yang kuat, imbal hasil AS yang tinggi, konflik Timur Tengah, risiko fiskal, dan ketidakpastian kebijakan domestik.

“Jadi, jika RDG darurat hanya menghasilkan kenaikan suku bunga tanpa dukungan kebijakan fiskal dan komunikasi pemerintah yang jelas, dampaknya bisa terbatas,” katanya.

Menurut Josua, hal yang lebih penting adalah paket kepercayaan yang menyatukan BI, Kemenkeu, OJK, dan pemerintah: stabilisasi valas, kepastian APBN, kejelasan kebijakan ekspor komoditas, reformasi pasar modal, serta komunikasi yang tidak menambah kepanikan.

Josua merekomendasikan BI untuk tidak perlu terburu-buru melakukan RDG insidentil jika tujuannya hanya menaikkan suku bunga lagi, tetapi BI harus siap melakukan RDG di luar jadwal jika pasar menjadi tidak tertib.

"Respons terbaik adalah berlapis. BI perlu memperkuat intervensi secara terukur di pasar spot, DNDF, dan NDF luar negeri, menjaga SRBI tetap menarik, serta membeli SBN di pasar sekunder untuk mencegah lonjakan yield yang memperburuk sentimen," kata Josua. 

Selain itu Josua berpandangan bahwa Kemenkeu perlu memberi kepastian bahwa defisit tetap terkendali, subsidi energi dikelola transparan, dan penerbitan SBN tidak dipaksakan saat pasar meminta bunga terlalu mahal.

"Pemerintah perlu menjelaskan kebijakan DHE SDA dan tata kelola ekspor agar tidak menimbulkan kesan kontrol berlebihan terhadap sektor komoditas. OJK dan BEI perlu mempercepat reformasi pasar modal karena tekanan MSCI dan aksi jual saham ikut memperlemah rupiah," katanya

BI sendiri, menurut Josua sudah menyatakan akan meningkatkan intensitas intervensi dan tetap hadir di pasar spot, DNDF domestik, NDF luar negeri, serta membeli SBN di pasar sekunder.

(ell)

No more pages