Logo Bloomberg Technoz

Kondisi global memang sedang tidak baik-baik saja, khususnya imbas sentimen perang Iran-AS. Namun, setidaknya ada lima poin sentimen dari dalam negeri, yang membuat tekanan IHSG semakin hebat.

  • Rating Fitch-Moody's, S&P Kemudian

Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia menjelaskan, kekhawatiran seputar tata kelola dan kredibilitas kebijakan pemerintah semakin meningkat, seiring langkah lembaga pemeringkat global, Fitch dan Moody's merevisi outlook Indonesia menjadi negatif.

Langkah keduanya kemudian memunculkan spekulasi di kalangan pelaku pasar jika S&P akan mengambil langkah serupa.

"Yang menjadi masalah utama bukanlah pertumbuhan ekonomi itu sendiri, melainkan kekhawatiran yang semakin meningkat mengenai kualitas kelembagaan, kepastian kebijakan, dan konsistensi pengambilan keputusan," jelas Liza..

Analis BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) Erinda Krisnawan mengungkap hal senada. Dalam revisi yang dilakukan pada 26 Maret lalu, Fitch bahkan menyematkan soal risiko di balik ketidakpastian kebijakan hingga belanja pemerintah yang membebani anggaran negara.

Sebulan sebelumnya, prediktabilitas kebijakan yang lebih rendah dan ketidakpastian kohesi fiskal menjadi pertimbangan Moody's merevisi outlook Indonesia.

"Usulan kenaikan royalti pertambangan dan kebijakan ekspor sumber daya alam satu pintu kemudian semakin memperkuat kebisingan ketidakpastian kebijakan," kata Erinda dalam risetnya.

  • Depresiasi Rupiah

Rupiah yang sudah menembus level 18.000/dolar AS menimbulkan kekhawatiran tentang inflasi, daya beli rumah tangga, dan daya tarik aset keuangan Indonesia bagi investor asing. 

Surplus perdagangan Indonesia menyempit tajam menjadi hanya US$90 juta pada April 2026, surplus terendah sejak April 2020, karena lonjakan impor minyak dan gas, saat di sisi lain pertumbuhan ekspor menyentuh dua digit yang sehat.

  • Konsumsi Domestik

Investor semakin mempertanyakan kekuatan konsumsi domestik. Selama bertahun-tahun, daya tarik investasi Indonesia sangat bergantung pada narasi tentang kelas menengah yang berkembang pesat. 

"Namun, data terbaru menunjukkan bahwa populasi kelas menengah telah menurun dari sekitar 61,5 juta orang pada tahun 2018 menjadi sekitar 46,6 juta pada 2026, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang kekuatan jangka panjang mesin pertumbuhan terpenting Indonesia," tutur Liza.

  • Net Sell Investor Asing

Meskipun IHSG saat ini diperdagangkan dengan price to earning ratio (P/E) 9-11 kali, lebih rendah dibanding periode Covid-19 di kisaran 11-12 kali, investor asing tetap melakukan aksi bersih (nett sell). Hal ini menunjukkan bahwa valuasi saja belum cukup untuk menarik arus masuk yang berarti.

  • Komunikasi Politik

Kekhawatiran investor saat ini juga tidak lagi terbatas pada kebijakan fiskal, rupiah, atau pasar ekuitas itu sendiri. 

Sebaliknya, perhatian telah beralih ke bagaimana para pembuat kebijakan menanggapi tekanan pasar dan mengkomunikasikan prioritas ekonomi. 

"Ketidakpastian yang meningkat mengenai arah kebijakan dan pesan pemerintah berisiko memperpanjang krisis kepercayaan saat ini, meskipun kondisi makroekonomi yang mendasarinya masih jauh dari krisis keuangan yang parah," jelas Liza.

Stress Test IHSG

Investor telah menghabiskan beberapa bulan terakhir untuk fokus pada apa yang salah dengan makro Indonesia hingga fundamental bursa saham, sehingga perhatian saat ini beralih ke apa yang mungkin terjadi selanjutnya.

Dua minggu ke depan akan menjadi salah satu periode terpenting bagi bursa saham, karena terdapat sejumlah agenda dari penyedia indeks global.

  • 19 Juni: Tinjauan Aksesibilitas Pasar Global MSCI & Tinjauan FTSE Russell Global Equity Index
  • 22 Juni: Tanggal Efektif Rebalancing FTSE Russell
  • 24 Juni: Tinjauan Klasifikasi Tahunan MSCI 2026

Sejumlah tinjauan tersebut memiliki signifikansi yang jauh melampaui keputusan inklusi atau eksklusi indeks. 

"Tinjauan itu mewakili penilaian independen terhadap faktor-faktor yang paling dipedulikan oleh investor global, yakni aksesibilitas pasar, standar tata kelola, ketersediaan saham free float, transparansi, likuiditas, dan kelayakan investasi."

Bull Case

Menurut Liza, di tengah pesimisme yang meluas, muncul satu pertanyaan yang layak mendapat perhatian lebih besar, yang justru bisa menjadi momentum pembalikan arah IHSG. Dalam perkembangan saat ini, sentimen negatif apa lagi yang masih belum diketahui pasar?

Setidaknya, selama enam bulan terakhir, investor telah menyerap sejumlah berita buruk:

  • Rupiah melemah tajam.
  • Net sell asing.
  • Revisi outlook dari Moody's
  • Revisi outlook dari Fitch
  • Kekhawatiran mengenai potensi tindakan serupa oleh S&P semakin meningkat.
  • MSCI dan FTSE telah meluncurkan tinjauan terhadap Indonesia.
  • IHSG telah menjadi salah satu pasar ekuitas utama dengan kinerja terburuk di kawasan.

(red)

No more pages