Sepanjang tahun ini, kata Ilhamsyah, produksi logam timah perseroan ditargetkan mencapai 30.000 ton dan penjualan ditargetkan sekitar 26.000 ton.
Ilhamsyah menambahkan bahwa tantangan operasional yang biasanya muncul adalah menghadapi praktik tambang ilegal di wilayah izin usaha pertambangan (WIUP) perseroan.
Dia menyatakan perseroan bakal menggencarkan legalisasi tambang ilegal tersebut dengan skema izin pertambangan rakyat (IPR).
“Jadi kita dorong mengenai aturan WPR dan IPR. Jadi kita bisa kolaborasi atau melegalisasi penambangan rakyat. Jadi kita bisa potong atau minimal minimalisasi illegal mining,” tutur dia.
Selain itu, perseroan juga menargetkan peningkatan kapasitas produksi dengan menambah alat kerja, memodernisasi alat, hingga memperbarui teknologi pengolahan timah.
“Karena demand lebih tinggi daripada suplainya, jadi shortage barangnya. Jadi, itu yang bergantung harga tinggi sampai hampir US$55.000-US$56.000 sekarang,” ucap Ilhamsyah.
Gencarkan Eksplorasi
Ilhamsyah juga menyatakan perseroan bakal menggencarkan aktivitas eksplorasi, untuk mempertebal cadangan bijih TINS. Dia mengungkapkan perseroan menganggarkan dana sekitar Rp200–300 miliar untuk eksplorasi pada tahun ini.
Dia menjelaskan sumber daya timah perseroan saat ini berada di sekitar 800.000 ton dan cadangan timah berada di sekitar 300.000 ton. Ilhamsyah menyatakan, cadangan tersebut kemungkinan bakal habis dalam rentang waktu 10–15 tahun.
“Kita rencana capex lumayan besar dari segi nominal. Kita aiming nambah sekitar Rp200-300 miliar lagi. Jadi kita agresif untuk itu. Karena sekarang kan resource-nya makin susah. Tapi kita dengan teknologi yang baru, kita coba terus agresif,” ucap Ilhamsyah.
Sekadar catatan, hingga kuartal I-2026 TINS memproduksi bijih timah sebesar 6.312 ton Sn atau naik 96% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang mencapai 3.225 ton Sn.
Selain itu, produksi logam timah naik 82% menjadi 5.630 metrik ton Sn dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar 3.095 metrik ton Sn. Sedangkan penjualan logam timah naik 113% menjadi 6.009 metrik ton dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar 2.824 ton.
Kemudian, perseroan mencatat harga jual rata-rata logam timah sebesar US$49.221 per metrik ton atau naik 51% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$32.495 per metrik ton.
Pada kuartal I-2026, penjualan logam timah TINS didominasi oleh pasar ekspor sebesar 97%, sementara penjualan domestik sebesar 3%. Adapun enam negara tujuan ekspor utama meliputi; China 48%, India 11%, Korea Selatan 10%, Italia 6%, Singapura 5%, dan Belanda 4%.
Adapun, logam timah di LME dilego seharga US$57.960 per ton pada Rabu (3/6/2026). Harga timah naik 2,31% dibandingkan perdagangan hari sebelumnya.
(azr/ros)




























