“Saat ini, kami sedang melakukan eksplorasi secara agresif. Itu menjadi salah satu fokus utama bagi PT Timah,” ujar dia.
Selain eksplorasi, Ilhamsyah menyatakan aktivitas pertambangan perseroan juga dilakukan perbaikan agar tingkat produktivitas tambang meningkat.
Begitu juga pada pabrik pengolahan atau smelter perseroan, Ilhamsyah menyatakan perseroan telah menggunakan teknologi yang mampu mengolah bijih timah berkadar rendah dengan penggunaan energi yang lebih sedikit dan waktu yang lebih singkat.
“Jadi, hal itu dapat menjaga daya saing kami di pasar. Dan juga, untuk aspek keberlanjutan, saya rasa kami mengadopsi banyak aspek dalam Responsible Mineral Initiative (RMI). Selain itu, kami secara konsisten melaporkan kepada GRI terkait transparansi aktivitas sosial dan ESG kami,” tuturnya.
Ekspansi Tambang di Luar Negeri
Dia turut mengungkapkan perseroan sedang mempertimbangkan untuk melakukan ekspansi tambang ke luar negeri; baik melalui akuisisi atau bermitra dengan perusahaan timah dunia.
“Dengan kondisi krisis saat ini, saya rasa ini adalah waktu yang tepat untuk membawa investasi dan melakukan ekspansi. Jadi, kami sedang mencari sesuatu yang strategis dan kami antusias untuk memiliki dominasi global yang lebih besar di industri timah,” ujar dia.
TINS mencatat produksi bijih timah sebesar 18.635 ton Sn pada 2025, turun 4% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 19.437 ton Sn.
Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya masih masifnya penambangan ilegal terutama pada lokasi pesisir oleh Ponton Isap Produksi (PIP) maupun tambang darat dan adanya penolakan masyarakat pada lokasi penambangan baru.
Seiring dengan menurunnya produksi bijih timah, produksi logam timah juga mengalami penurunan sebesar 6% menjadi 17.815 metrik ton dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 18.915 metrik ton.
Adapun penjualan logam timah turun 5% menjadi 16.634 metrik ton dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 17.507 metrik ton.
Harga jual rata-rata logam timah sebesar US$35.240 per metrik ton, naik 13% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$31.181 per metrik ton.
Pada 2025, TINS mencatatkan penjualan logam timah domestik sebesar 5% dan ekspor logam timah sebesar 95% dengan 6 besar negara tujuan ekspor meliputi Singapura 23%; Korea Selatan 21%; Jepang 17%; Belanda 7%; Italia 3%; dan China 3%.
Kontribusi penjualan ekspor perseroan mencapai sekitar 24% dari total ekspor timah Indonesia sebesar 53.050 metrik ton, serta menyumbang sekitar 3% dari total ekspor timah global sebesar 371.369 metrik ton.
Sepanjang 2025, harga logam timah global tercatat naik dibandingkan tahun sebelumnya didukung oleh meningkatnya permintaan untuk semikonduktor, panel fotovoltaik, dan teknologi transisi energi lainnya.
Harga rata-rata logam timah Cash Settlement Price London Metal Exchange (LME) 2025 sebesar US$34.119,96 per ton atau naik 13% dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar US$30.177,45 per ton.
Persediaan timah di gudang LME pada akhir Desember 2025 berada di posisi 5.420 ton, naik 14% dari awal tahun 2025 di posisi 4.760 ton.
Berdasarkan CRU Tin Monitor, pada 2025 produksi logam timah global diperkirakan sebesar 371.369 ton. Sedangkan konsumsi logam timah global diperkirakan sebesar 389.404 ton.
(azr/ros)





























