Crash Bitcoin Lanjut, Level Penurunan Hampir 50% dari Rekor ATH
Merinda Faradianti
03 June 2026 14:07

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pasar kripto kembali berada di bawah tekanan setelah harga Bitcoin bergerak jauh di bawah rekor tertinggi yang dicapainya pada Oktober 2025, dengan catatan pergerakan harian terendah sempat menyentuh US$65.759,9 (sekitar Rp1,17 miliar) Rabu, 3 Juni 2026 jelang siang hari.
Hingga pukul 13.20 waktu Indonesia hari ini catatan perdagangan aset kripto paling berharga di dunia ini masih melemah 4,1% dibandingkan posisi hari Selasa ke level US$67.116,8. Sementara itu catatan 'merah' BTC dibandingkan satu tahun lalu ada di posisi bearish 36% dengan -23,2% diantaranya merupakan performanya sepanjang tahun ini atau year-to-date (YTD).
Ini berarti rentang pergerakan Bitcoin pada perdagangan Rabu ini nyaris 50% lebih rendah dibandingkan rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH) sekitar US$126.000 yang dicapai pada Oktober 2025.
Sentimen negatif yang menyelimuti Bitcoin telah memicu likuidasi posisi perdagangan kripto senilai lebih dari US$1 miliar hanya dalam hitungan jam. Penutupan paksa posisi leveraged tersebut menjadi yang terbesar sejak Februari 2026.
Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik di Iran, berkurangnya minat investor terhadap aset berisiko, serta melemahnya permintaan institusional yang selama ini menjadi salah satu pendorong utama kenaikan harga kripto.
Tekanan jual juga datang dari Strategy Inc., perusahaan milik Michael Saylor yang dikenal sebagai salah satu pemegang Bitcoin korporasi terbesar di dunia. Perusahaan tersebut mengungkapkan penjualan sekitar 32 Bitcoin senilai US$2,5 juta, menandai penjualan pertama sejak akhir 2022.
Di sisi lain, arus dana keluar dari ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat terus berlanjut dengan arus penarikan dana hampir US$3,5 miliar selama 11 hari perdagangan berturut-turut, menandakan melemahnya minat terhadap aset digital tersebut.
Salah satu ekonom Peter Schiff mengungkap proyeksi harga Bitcoin di masa depan akan semakin kelam. Bitcoin menurut Schiff siap mencapai level breakout US$50.000 dan bisa mengalami kejatuhan yang semakin parah hingga US$20.000, dalam unggahannya di media sosial X.
There is way too much complacency in Bitcoin for the market to be anywhere near a bottom. When Bitcoin breaks $50K, it should be a quick fall below $20K, which should be a big enough drop to shake the conviction of long-term HODLers, causing many to finally throw in the towel.
— Peter Schiff (@PeterSchiff) June 2, 2026
Sejumlah analis mengungkap lebih jauh pola pelemahan di pasar Bitcoin tak lepas dari sentimen negatif penjualan 'cadangan' BTC yang terjadi untuk pertama kalinya dalam 41 bulan terakhir. Pelaku pasar juga mengurangi eksposur terhadap aset berisiko efek belum ada kejelasan terkait penyelesaian ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di seputar Selat Hormuz.
Kekhawatiran lain adalah lonjakan inflasi sehingga kini investor menetapkan Bitcoin lebih condong pada instrumen berisiko dibandingkan aset dengan fungsi lindung nilai.
“Jika Anda menambahkan Bitcoin ke portofolio Anda dengan berpikir itu adalah lindung nilai inflasi jangka pendek, saya pikir Anda perlu mengevaluasinya kembali. Tingkat ketidakpastiannya sangat tinggi, yang berpotensi menyebabkan kekecewaan,” ungkap Cam Harvey, direktur riset di Research Affiliates, yang juga profesor keuangan di Duke University, dilaporkan Bloomberg News.
Likuidasi dalam jumlah besar juga terjadi di pasar derivatif aset digital, dimana data mempertontonkan bahwa sekitar US$1,64 miliar posisi perdagangan terlikuidasi dalam 24 jam, dengan sekitar US$1,47 miliar berasal dari posisi beli atau long position, mengutip BeinCrypto. Sementara itu, total kapitalisasi pasar kripto menuurun 0,81% menjadi US$2,26 triliun, atau menyusut sekitar US$18,56 miliar.
Apabila level US$2,23 triliun mampu bertahan, pasar berpeluang mengalami rebound menuju US$2,33 triliun. Selain itu, akumulasi posisi short yang tinggi berpotensi memicu short squeeze yang dapat mendorong harga bergerak lebih tinggi. Sebaliknya, jika level support US$2,23 triliun ditembus, tekanan jual diperkirakan akan semakin kuat karena minimnya area dukungan signifikan di bawah level tersebut.































