Dari lantai bursa, saham TPIA balik melemah ke level Rp1.785 per saham pada pukul 09.20 WIB setelah dibuka di level Rp1.900 per saham. TPIA menghimpun transaksi sekitar Rp524 miliar pada awal perdagangan hari ini.
Saat berbincang dengan Bloomberg Technoz pada 21 Mei 2026, Direktur Utama Barito Pacific Agus Pangestu mengatakan kinerja grup pada kuartal I-2026 masih menunjukkan performa yang kuat. Performa ini didukung oleh bisnis energi, petrokimia, dan infrastruktur yang resilien.
Agus menilai gejolak pasar saat ini bersifat sementara dan tidak mengubah arah pertumbuhan jangka panjang perusahaan.
"Fundamental dan operasional bisnis grup tetap berada dalam kondisi solid. Fokus kami tetap pada ekspansi domestik dan regional. Perintah Pak Prajogo, seluruhnya dikonsolidasikan di Indonesia atas nama Merah Putih,” ujar Agus di Jakarta.
Selain mencatatkan pertumbuhan kinerja, Ia juga menyoroti progres pembangunan proyek Chlor Alkali-Ethylene Dichloride (CA-EDC) milik PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), yang saat ini mencapai sekitar 70%.
Menurut Agus proyek tersebut merupakan bagian dari komitmen grup dalam mendukung agenda hilirisasi industri nasional dan memperkuat rantai pasok industri domestik.
“Saat ini memang kita mengalami gejolak eksternal, namun kami rasa ini bersifat sementara dan kami optimistis situasi akan membaik. Pabrik Chandra Asri Chlor Alkali ini dibangun bersama Danantara untuk hilirisasi dan kami bersyukur mampu membuka lapangan perkerjaan kurang lebih sampai 3.000 orang," lanjutnya.
Ruang Fleksibel
Manajemen TPIA menerangkan kinerja yang impresif awal tahun ini disebabkan karena keberhasilan integrasi aset Shell Singapore dan ritel ExxonMobil Singapore yang diselesaikan dalam satu tahun terakhir.
Selain itu, TPIA turut mempertahankan likuiditas yang solid sebesar US$3,8 miliar. Dengan demikian, TPIA memiliki ruang yang fleksibel untuk berinvestasi sambil mengelola volatilitas siklus di industri petrokimia.
Di sisi lain, TPIA tengah menyiapkan belanja modal sekitar US$1 miliar untuk pembangunan fasilitas caustic soda dan ethylene dichloride berskala global. Proyek itu ditarget bisa beroperasi pada 2027.
Adapun, TPIA berhasil mencatat margin kilang yang meningkat di tengah volatilitas dan perubahan pasokan di kawasan Timur Tengah.
Optimalisasi pemilihan crude slate serta penempatan produk memungkinkan grup untuk memaksimalkan spread (crack) dan throughput selama kuartal I-2026.
“Segmen petrokimia terus menghadapi tekanan margin akibat kelebihan pasokan regional dan permintaan yang cenderung tertahan. Namun, grup mampu menjaga stabilitas operasi melalui disiplin biaya, fleksibilitas bahan baku,” dikutip dari siaran pers.
(naw)




























