Impor dari China didominasi oleh mesin/peralatan mekanis dan bagiannya senilai US$6,92 miliar atau berkontribusi sebesar 22,49% terhadap total impor China ke Indonesia.
Selanjutnya, negeri tirai bambu tersebut mencatatkan impor mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya sebesar US$6,75 miliar. Sementara itu, impor plastik dan barang dari plastik tercatat sebesar US$1,7 miliar.
Sementara, di periode yang sama ekspor nonmigas Indonesia ke China tercatat sebesar US$22,76 miliar, sedangkan impor mencapai US$30,79 miliar.
BPS mencatat defisit perdagangan dengan China terutama disumbang oleh impor mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS 84) sebesar US$6,81 miliar, mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85) sebesar US$6,54 miliar, serta plastik dan barang dari plastik (HS 39) sebesar US$1,63 miliar.
Adapun kinerja neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus sebesar US$0,09 miliar pada April 2026. Artinya, Indonesia mengalami surplus dagang selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Kendati demikian, angka ini jauh lebih sedikit ketimbang surplus pada Maret 2026 yang mencapai US$3,32 miliar.
(mfd/ell)






























