Logo Bloomberg Technoz

Sebelum resesi 1990, pecahnya gelembung dot-com pada 2001, hingga Krisis Keuangan Global 2008, kurva yield terlebih dahulu masuk ke wilayah negatif.

Namun, sebuah studi Federal Reserve Bank of Chicago yang disusun oleh Luca Benzoni, Olena Chyruk, dan David Kelley, mengingatkan bahwa membaca kurva yield tidak sesederhana melihat apakah kurvanya terbalik atau tidak. Yang jauh lebih penting adalah memahami alasan di balik perubahan tersebut.

Menurut penelitian tersebut, kurva yield pada dasarnya adalah ringkasan dari berbagai ekspektasi pasar: mulai dari prospek pertumbuhan ekonomi, inflasi, arah kebijakan bank sentral, hingga persepsi investor terhadap risiko di masa depan.

Ketika investor memperkirakan ekonomi akan melambat, mereka biasanya juga memperkirakan bank sentral akan menurunkan suku bunga pada masa mendatang.

Ekspektasi itulah yang mendorong pembelian obligasi jangka panjang dan pada akhirnya menekan yield tenor panjang.

Yield nominal dipandang sebagai kombinasi antara ekspektasi inflasi, ekspektasi suku bunga riil, dan berbagai premi risiko yang diminta investor sebagai kompensasi atas ketidakpastian inflasi dan suku bunga di masa depan,” sebut Benzoni dalam laporannya.

Dalam konteks Indonesia, inversi antara tenor 1 tahun dan 10 tahun dapat dibaca sebagai indikasi bahwa pasar mulai memperkirakan suku bunga beberapa tahun ke depan akan lebih rendah dibandingkan saat ini.

Dengan kata lain, investor tampaknya meyakini bahwa fase suku bunga tinggi tidak akan berlangsung permanen.

Meski demikian, bukan berarti pasar sedang meramalkan resesi Indonesia. Penelitian Federal Reserve tersebut itu justru menunjukkan bahwa tidak semua inversi membawa pesan yang sama.

Dalam beberapa kasus, yield jangka panjang turun bukan karena kekhawatiran terhadap ekonomi, melainkan karena tingginya permintaan terhadap aset yang dianggap aman, ekspektasi inflasi yang lebih terkendali, atau faktor teknis lain di pasar obligasi.

Hal ini diamini oleh Harry Su, Managing Director Research Samuel Sekuritas. Menurut Harry, yield tenor 1 tahun memang seharusnya naik, seiring dengan kenaikan BI Rate.

“Sebelumnya malah terjadi decoupling karena di-support oleh pemerintah sehingga tidak naik,” kata Harry, saat dihubungi Bloomberg Technoz.

Decoupling artinya pergerakan yield SUN tidak bergerak sesuai dengan kenaikan BI Rate. Sebab, secara teori, SUN tenor pendek umumnya sangat sensitif terhadap suku bunga kebijakan Bank Indonesia. Ketika BI Rate naik, tenor 1 tahun biasanya ikut naik karena investor menuntut hasil yang lebih tinggi.

Meski belum bisa diartikan sebagai alarm resesi, sinyal ini tetap layak mendapat perhatian. Ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian, mulai dari tingginya suku bunga di negara maju, ketegangan geopolitik yang memengaruhi harga energi, hingga perlambatan aktivitas ekonomi di sejumlah mitra dagang utama Indonesia.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak telah mempercepat kenaikan tajam pada inflasi Mei yang meningkat ke 3,08%, melampaui konsensus ekonom 2,94%. 

Lonjakan ini terjadi karena didorong oleh kenaikan bahan baku dan biaya logistik. Dalam hal ini, kenaikan harga di tingkat produsen kemudian diteruskan kepada konsumen dan memicu kenaikan harga jual.

Di sisi lain, kondisi pasar tenaga kerja masih menunjukkan sikap kehati-hatian. Jumlah pekerja kembali menurun untuk bulan ketiga berturut-turut, meskipun laju penurunannya relatif tipis.

Hal ini mengindikasikan bahwa pelaku usaha masih enggan melakukan ekspansi tenaga kerja secara signifikan di tengah ketidakpastian yang berasal dari faktor domestik maupun eksternal.

Siang ini, rupiah gagal bertahan di bawah level Rp17.800/US$. Momentum penguatan dolar AS dan tingginya volatilitas harga energi membuat pelaku pasar cenderung mempertahan posisi defensif.

Apalagi, sentimen terhadap kondisi domestik Indonesia juga belum sepenuhnya reda. Pasar mencermati apakah Indonesia memiliki policy anchor dalam bentuk kebijakan yang konsisten, kredibel, dan cukup untuk menghadapi kondisi global yang lebih volatil.

(rst)

No more pages