Logo Bloomberg Technoz

Meski demikian, ia mengungkapkan nilai ekonomi industri jamu nasional saat ini masih jauh dari potensi yang dimiliki. Menurutnya, kontribusi ekonomi yang berhasil digarap baru berkisar Rp1 triliun hingga Rp2 triliun per tahun.

Taruna mencontohkan, nilai perdagangan rempah-rempah Indonesia saja telah mencapai sekitar Rp43 triliun per tahun. Namun sebagian besar pemanfaatannya belum diarahkan untuk pengembangan herbal medicine atau obat berbasis bahan alam yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

“Nah, ruang yang belum tergarap ini mencapai sekitar Rp348 triliun. Potensinya sangat besar, tetapi belum dikelola secara maksimal,” ujarnya.

Untuk mengoptimalkan peluang tersebut, BPOM mendorong pengembangan ekosistem riset dan inovasi melalui konsep kolaborasi antara akademisi, pelaku bisnis, dan pemerintah atau yang dikenal dengan model ABG (Academic, Business, Government). Menurut Taruna, riset menjadi faktor kunci untuk meningkatkan kualitas dan daya saing produk herbal Indonesia.

Ia menjelaskan, produk jamu perlu ditingkatkan statusnya menjadi Obat Herbal Terstandar (OHT) hingga fitofarmaka. Proses tersebut membutuhkan berbagai penelitian, mulai dari uji praklinis, bioavailabilitas, stabilitas produk, hingga pembuktian manfaat kesehatan seperti efek antiinflamasi dan antioksidan.

Data BPOM menunjukkan saat ini terdapat sekitar 22.000 produk jamu yang telah memiliki izin edar. Namun, hanya 71 produk yang telah berstatus Obat Herbal Terstandar dan baru 21 produk yang berhasil naik kelas menjadi fitofarmaka.

“Kalau jamu naik menjadi obat herbal terstandar, nilai ekonominya meningkat karena sudah memiliki dukungan data ilmiah yang lebih kuat. Apalagi jika menjadi fitofarmaka, nilai tambahnya akan jauh lebih besar,” kata Taruna.

Selain memperkuat riset, BPOM juga menilai promosi dan pemasaran menjadi faktor penting untuk memperluas pasar produk herbal nasional. Karena itu, keterlibatan pelaku usaha dan dunia bisnis diperlukan agar produk-produk herbal Indonesia semakin dikenal di pasar domestik maupun internasional.

Jamu Mampu Bersaing dengan Produk Herbal di Global

Dalam kesempatan yang sama, Taruna optimistis jamu Indonesia mampu bersaing dengan produk herbal unggulan dari negara lain, termasuk ginseng asal Korea Selatan. Menurutnya, Indonesia memiliki berbagai tanaman herbal dengan kandungan aktif yang tidak kalah kompetitif.

Ia mencontohkan kurkumin yang terkandung dalam kunyit. Senyawa tersebut memiliki manfaat sebagai antioksidan, antiinflamasi, hingga membantu pelebaran pembuluh darah (vasodilator). Menurut Taruna, kombinasi manfaat tersebut menjadikan kurkumin memiliki keunggulan yang dapat bersaing dengan ginseng di pasar global.

“Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang luar biasa. Kurkumin adalah salah satu contoh bahan herbal yang potensinya sangat besar dan mampu menjadi keunggulan kompetitif Indonesia di pasar obat herbal dunia,” ujarnya.

(dec)

No more pages