Artinya, perbaikan ekspor tahunan lebih banyak dipengaruhi oleh dasar pembanding yang rendah pada April 2025 karena efek libur Idul Fitri, bukan karena lonjakan permintaan ekspor yang sangat kuat.
Selain itu, data China juga menunjukkan impor dari Indonesia menurun pada April 2026 setelah sempat naik tajam pada Maret 2026, sehingga permintaan eksternal masih perlu dibaca hati-hati.
“Dari sisi impor, tekanan terhadap surplus dagang lebih jelas. Impor April 2026 diperkirakan tumbuh 2,98% secara tahunan dan naik 10,37% secara bulanan,” ungkapnya.
Kenaikan bulanan yang cukup besar ini mencerminkan normalisasi aktivitas ekonomi setelah libur Idul Fitri, dorongan kebijakan pemerintah yang pro-pertumbuhan, serta kenaikan harga minyak akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah (Timteng).
“Ini menunjukkan dua hal yakni aktivitas domestik masih bergerak, tetapi kebutuhan impor, terutama energi dan bahan baku, mulai menekan ruang surplus perdagangan,” tambahnya.
Dengan demikian, faktor pendorong utama neraca dagang April adalah kombinasi antara ekspor yang membaik secara tahunan tetapi relatif datar secara bulanan, serta impor yang naik lebih cepat karena aktivitas ekonomi kembali normal dan harga energi meningkat.
Secara makro, ini menjadi sinyal bahwa surplus perdagangan Indonesia masih menjadi bantalan penting bagi Rupiah, tetapi bantalannya mulai menipis. Menurutnya, jika pola impor tumbuh lebih cepat daripada ekspor berlanjut, tekanan terhadap transaksi berjalan dan rupiah bisa meningkat.
“Kami juga memperkirakan defisit transaksi berjalan 2026 dapat melebar menjadi sekitar 1,07% PDB dari defisit 0,11% PDB pada 2025, terutama bila kebijakan pro-pertumbuhan meningkatkan impor sementara permintaan global belum pulih kuat,” ungkapnya.
Sebagai gambaran, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar US$3,32 miliar per Maret 2026. Capaian tersebut lebih tinggi dari surplus neraca dagang Indonesia pada Februari 2026 yang senilai US$1,27 miliar.
Pada periode itu, Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekspor Indonesia per Maret 2026 mencapai US$22,53 miliar atau naik 3,10% year on year (YoY) dibandingkan Maret 2025. Pada saat yang sama, nilai impor Maret 2026 mencapai US$19,21 miliar atau naik 1,51% YoY.
(smr/ell)




























