Krisis Hormuz Bisa Dongkrak Ekspor Batu Bara dan Sawit RI
Redaksi
29 May 2026 15:38

Bloomberg Technoz, Jakarta - Konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz tidak hanya mengguncang pasar energi global, tetapi juga dapat menciptakan dampak yang beragam bagi sejumlah sektor strategis di Indonesia.
Sebagai salah satu jalur pelayaran minyak terpenting di dunia, gangguan di Selat Hormuz berpotensi mendorong harga minyak mentah dan gas alam ke level yang lebih tinggi. Kondisi ini pada satu sisi menghadirkan peluang bagi komoditas ekspor Indonesia, meski di sisi lain juga dapat memunculkan berbagai tantangan yang malah membatasi manfaat ekonomi yang kemungkinan bisa diperoleh.
Sebenarnya, batu bara menjadi salah satu yang berpotensi diuntungkan. Ketika pasokan gas alam cair (LNG) global terganggu dan harganya melonjak, banyak negara yang masih bergantung pada pembangkit listrik berbahan bakar gas cenderung beralih menggunakan batu bara sebagai sumber energi alternatif.
Indonesia, yang merupakan eksportir batu bara termal terbesar di dunia, berpeluang menikmati peningkatan permintaan dari negara-negara importir utama, khususnya di Asia. Tren tersebut sebenarnya sudah mulai terlihat melalui peningkatan ekspor ke Jepang dan sejumlah negara Asia Tenggara pada awal tahun ini.
Namun demikian, peluang tersebut tidak sepenuhnya bebas hambatan. Pemerintah baru-baru ini menerapkan kebijakan yang mewajibkan ekspor batu bara termal dilakukan melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

































