Logo Bloomberg Technoz

"Kebijakan baru yang mewajibkan ekspor batu bara termal dilakukan melalui BUMN telah menciptakan ketidakpastian yang cukup besar bagi sektor ini," sebut Felix Kosasih, Analis Bloomberg, dalam catatannya.

Akibatnya, kenaikan permintaan global belum tentu dapat diterjemahkan secara optimal menjadi peningkatan ekspor dan penerimaan devisa. 

Di sektor minyak sawit, lonjakan harga energi juga berpotensi memberikan dorongan tambahan terhadap permintaan domestik. Pemerintah berencana meningkatkan kewajiban pencampuran biodiesel dari B40 menjadi B50 mulai Juli 2026. Kebijakan ini akan meningkatkan konsumsi minyak sawit dalam negeri secara signifikan sekaligus mengurangi porsi yang tersedia untuk pasar ekspor.

Dalam situasi harga energi tinggi, penggunaan biodiesel dianggap menjadi semakin menarik karena dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor.

Meski demikian, implementasi program B50 juga menghadapi sejumlah tantangan. Kapasitas produksi biodiesel nasional masih terbatas, sementara harga metanol—salah satu bahan baku utama dalam proses produksi biodiesel—ikut terdorong naik akibat gejolak pasar energi global. 

Kondisi tersebut dapat menghambat realisasi target pemerintah dan membatasi peningkatan konsumsi minyak sawit yang diharapkan. 

Pemerintah memasang target ambisius untuk meningkatkan kadar biodiesel yang dicampur dalam solar hingga 50%, setidaknya mulai 1 Juli tahun ini. Langkah ini merupakan bagian dari upaya Indonesia untuk mengurangi gangguan pasokan energi yang disebabkan oleh konflik AS dan Iran.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, pada akhir Maret lalu mengatakan mandatori B50 dapat mengurangi konsumsi bahan bakar fosil sebesar 4 juta kiloliter (kl) per tahun. 

Sementara itu, industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) juga berpotensi memperoleh manfaat jangka pendek dari kenaikan harga bahan bakar minyak dunia. Semakin mahal harga bensin dan solar, semakin kompetitif biaya operasional kendaraan listrik dibandingkan kendaraan konvensional.

Ditambah dengan berbagai insentif yang tengah disiapkan pemerintah Indonesia, kondisi ini dapat mendorong peningkatan minat konsumen terhadap kendaraan listrik dalam beberapa bulan ke depan.

Namun, prospek tersebut dapat berubah apabila konflik berlangsung terlalu lama. Harga energi yang tinggi secara berkepanjangan berisiko menekan pertumbuhan ekonomi global dan mengurangi daya beli masyarakat.

Dalam situasi seperti itu, pembelian kendaraan baru, termasuk kendaraan listrik, cenderung tertunda karena konsumen lebih fokus menjaga pengeluaran. Selain itu, gangguan rantai pasok global juga dapat menghambat produksi dan distribusi kendaraan listrik.

Bloomberg memperkirakan, kenaikan harga energi memang berpotensi menciptakan peluang bagi sektor batu bara, minyak sawit, dan kendaraan listrik Indonesia. 

Namun, Felix menambahkan besarnya manfaat yang dapat diraih akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dan pelaku usaha dalam mengatasi berbagai kendala domestik, mulai dari kebijakan ekspor, kapasitas produksi, hingga ketahanan rantai pasok.

Jika konflik berlangsung lebih singkat dari yang diperkirakan, Indonesia mungkin dapat menikmati sebagian keuntungan ekonomi dari lonjakan harga komoditas.

Sebaliknya, apabila ketegangan antara AS dan Iran berlarut-larut, tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi dan stabilitas pasar juga berpotensi lebih besar daripada manfaat ekonomi yang mungkin bisa diperoleh.

(dsp/aji)

No more pages