Corporate Secretary Waskita Karya Ermy Puspa Yunita mengatakan proyek perluasan mataf bukan sekadar pekerjaan konstruksi biasa, melainkan bagian dari kontribusi perusahaan dalam menghadirkan infrastruktur yang memberi manfaat luas bagi masyarakat internasional.
"Sebelumnya mataf hanya dapat menampung 48 ribu jemaah, namun setelah direnovasi bisa memuat hingga lebih dari 105 ribu jemaah. Bagi Waskita, memperluas Mataf Masjidil Haram bukan sekadar mengerjakan proyek, tapi wujud komitmen kami dalam menghadirkan infrastruktur yang bermanfaat bagi dunia internasional, apalagi Masjidil Haram merupakan tempat suci dan spiritual yang selalu menjadi tujuan masyarakat dunia," ujar Corporate Secretary Waskita Karya Ermy Puspa Yunita dalam keterangan resmi, Selasa (26/5/2026).
Keberhasilan proyek tersebut sekaligus memperlihatkan kemampuan teknis Waskita Karya dalam menangani konstruksi kompleks dengan standar internasional. Perseroan menerapkan metode formwork slab dan cantilever beam untuk meningkatkan presisi pekerjaan sekaligus mengefisienkan waktu serta biaya pembangunan.
Teknologi tersebut berfungsi sebagai acuan atau cetakan sementara untuk membentuk struktur beton sesuai desain konstruksi yang telah direncanakan. Selain itu, pada bagian bekisting dinding balok digunakan panel baju, sedangkan bagian bawah memanfaatkan triplek dan peri kayu.
Pengalaman Panjang Waskita di Timur Tengah
Renovasi mataf Masjidil Haram bukan satu-satunya proyek internasional yang berhasil dirampungkan Waskita Karya di Arab Saudi. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan ini telah mengerjakan sejumlah proyek penting di berbagai kota strategis.
Pada 2011, Waskita Karya menggarap proyek King Saud Fitness College dengan nilai kontrak sebesar 16 juta riyal Saudi. Proyek tersebut menjadi salah satu langkah awal penguatan portofolio perusahaan di sektor pendidikan dan fasilitas publik di Timur Tengah.
Sebelumnya, pada 2009, Perseroan juga menyelesaikan proyek King Saud University of Riyadh Techno Valley & Building Administration College di Riyadh senilai 50 juta riyal Saudi. Proyek itu mempertegas kemampuan perusahaan Indonesia dalam membangun fasilitas pendidikan modern berstandar internasional.
Tidak berhenti di situ, Waskita Karya juga terlibat dalam pembangunan King Abdullah Financial District (KAFD) pada periode 2010 hingga 2012. Kawasan bisnis modern tersebut terdiri dari bangunan setinggi 31 lantai dan menjadi salah satu pusat ekonomi baru di Arab Saudi.
Selain proyek gedung tinggi, perusahaan juga mengerjakan infrastruktur konektivitas seperti Jeddah Flyover. Perseroan turut membangun fasilitas kesehatan melalui proyek King Faisal Specialist Hospital di Jeddah.
Ragam proyek yang telah diselesaikan menunjukkan pengalaman panjang Waskita Karya sebagai perusahaan konstruksi yang mampu menangani berbagai jenis pembangunan, mulai dari gedung pencakar langit hingga fasilitas publik vital.
"Pembangunan sejumlah proyek di Arab Saudi memperkuat posisi Waskita Karya sebagai perusahaan kontraktor yang telah berpengalaman selama 65 tahun mengerjakan lebih dari 100 infrastruktur dalam 10 tahun terakhir, seperti gedung pencakar langit, masjid, sekolah, infrastruktur konektivitas, bandara, infrastruktur air, dan sebagainya. Tidak hanya secara nasional tapi juga internasional," tegas Ermy.
Pengalaman internasional tersebut menjadi modal penting bagi Waskita Karya untuk memperluas ekspansi bisnis ke pasar global. Manajemen perusahaan menilai kawasan Timur Tengah masih menyimpan peluang besar, terutama di sektor pembangunan infrastruktur dan properti.
Ke depan, Perseroan berkomitmen terus memperbesar keterlibatan pada proyek mancanegara, khususnya di Arab Saudi. Strategi yang disiapkan antara lain memperkuat kemitraan strategis dengan berbagai pihak agar lebih mudah mengikuti tender dan menangkap peluang proyek baru.
Langkah ekspansi tersebut juga sejalan dengan transformasi Waskita Karya sebagai BUMN konstruksi yang semakin adaptif terhadap pasar internasional. Kehadiran perusahaan Indonesia di proyek-proyek global dinilai mampu meningkatkan daya saing industri konstruksi nasional.
Sebagai informasi, Waskita Karya berdiri pada 1961 sebagai Badan Usaha Milik Negara. Pada Desember 2012, perusahaan resmi menjadi perusahaan publik dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia dengan kode WSKT.
Dalam perkembangannya, Waskita terus memperluas lini bisnis melalui sejumlah anak usaha, antara lain PT Waskita Beton Precast Tbk, PT Waskita Toll Road, PT Waskita Karya Realty, dan PT Waskita Karya Infrastruktur.
Dengan pengalaman lebih dari enam dekade dan portofolio proyek di dalam maupun luar negeri, Waskita Karya kini terus mempertegas posisinya sebagai salah satu perusahaan konstruksi Indonesia yang mampu tampil di panggung internasional.
(tim)





























