Logo Bloomberg Technoz

“Kondisi ini menekan rupiah karena Indonesia adalah pengimpor bersih minyak dan LPG, sehingga kenaikan harga energi langsung memperbesar kebutuhan dolar untuk impor,” kayta Josua.

Sementara itu, Josua menyebut bahwa di sisi pasar global, kenaikan harga minyak juga membuat inflasi global lebih tinggi, mendorong ekspektasi suku bunga global tetap tinggi, dan memperkuat dolar AS.

Konflik Timur Tengah menekan Asia melalui harga energi, gangguan rantai pasok, kondisi keuangan yang lebih ketat, dan pelemahan arus pendapatan luar negeri.

Sementara itu, faktor kedua yang menjadi pemberat rupiah adalah kebutuhan dolar domestik yang meningkat, terutama pada kuartal II.

“Tekanan April sampai Juli biasanya lebih besar karena pembayaran dividen, pembayaran utang luar negeri, kebutuhan impor energi, serta kebutuhan valas untuk kegiatan haji,” lanjutnya.

Karenanya, menurut Josua meskipun BI Rate dinaikkan, permintaan dolar riil tetap ada. Dalam kondisi normal, kenaikan suku bunga bisa membantu menarik dana asing dan menahan rupiah.

Namun, ketika tekanan berasal dari kebutuhan dolar nyata, bukan sekadar spekulasi, maka kenaikan suku bunga tidak cukup untuk langsung membalikkan rupiah.

“Data cadangan devisa April 2026 yang turun dari 148,2 miliar dolar AS menjadi 146,2 miliar dolar AS juga menunjukkan bahwa BI sudah menggunakan sebagian bantalan untuk stabilisasi rupiah dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, meskipun posisinya masih tinggi setara 5,8 bulan impor,” katanya.

Faktor ketiga adalah tekanan neraca eksternal. Neraca Pembayaran Indonesia triwulan I 2026 menunjukkan transaksi berjalan masih rentan karena surplus barang menyempit dan kebutuhan impor tetap tinggi.

“Ini penting karena pasar tidak hanya melihat cadangan devisa hari ini, tetapi juga menilai apakah pasokan devisa ke depan cukup kuat untuk mengimbangi kebutuhan impor, pembayaran utang, dan arus keluar portofolio.” kata Josua.

Menurutnya, jika ekspor belum cukup kuat sementara impor energi dan bahan baku meningkat, tekanan terhadap rupiah akan tetap ada. Dalam kondisi seperti ini, rupiah bisa tetap melemah meskipun suku bunga sudah dinaikkan, karena pasar menilai tekanan valuta asing berasal dari struktur neraca eksternal, bukan hanya dari tingkat bunga.

Faktor keempat  yang menjadi pemberat rupiah adalah sentimen pasar terhadap kebijakan dan aset Indonesia. Pelemahan rupiah beberapa waktu terakhir terjadi bersamaan dengan tekanan di pasar saham dan obligasi, termasuk akibat sentimen MSCI, kekhawatiran terhadap defisit fiskal, dan kenaikan imbal hasil SBN.

“Bloomberg mencatat rupiah sempat jatuh ke rekor terendah ketika pasar dibuka kembali, sementara IHSG melemah dan imbal hasil SBN 10 tahun naik. Ini menunjukkan tekanan rupiah bukan hanya soal kurs, tetapi soal kepercayaan investor terhadap aset rupiah secara keseluruhan,” katanya

Menurutnya, jika investor asing mengurangi saham dan obligasi, hasil penjualan aset rupiah dapat dikonversi ke dolar, sehingga menambah tekanan valuta asing.

Menurutnya upaya memperkuat rupiah harus dilakukan melalui kombinasi kebijakan, bukan hanya menaikkan BI Rate.

“Dari sisi BI, intervensi di pasar valas tetap diperlukan, tetapi harus terukur agar cadangan devisa tidak cepat terkuras. BI juga perlu menjaga daya tarik aset rupiah melalui SRBI, SVBI, SUVBI, DNDF, operasi pasar valas, dan stabilisasi SBN di pasar sekunder,” katanya.

Sementara dari sisi fiskal, penguatan rupiah harus dilakukan melalui peningkatan pasokan devisa dan penguatan kepercayaan fiskal.

(ell)

No more pages