Logo Bloomberg Technoz

“Ketika kendaraan ICE yang lain sudah gaduh dengan kenaikan harga BBM, pemakai LCGC seharusnya masih tenang dengan diperbolehkannya memakai BBM bersubsidi. Tapi ketika suatu hari BBM menjadi langka, pada saat itu pemakai LCGC akan gaduh dan galau juga. Karenanya EV menjadi alternatif terbaik,” tutur dia.

Ia menjelaskan, pada awal kemunculannya LCGC dipuji sebagai solusi kendaraan murah dan hemat bahan bakar di tengah harga mobil konvensional yang tinggi. Namun seiring waktu, harga LCGC terus meningkat sehingga keunggulan tersebut mulai dipertanyakan.

“Dengan berjalannya waktu apakah benar murah? Harganya terus naik. BBM hemat tapi tidak sehemat yang dijanjikan,” sebut Bebin.

Meski demikian, dia menilai LCGC masih tetap diminati karena menjadi pilihan kendaraan termurah di tengah pelemahan daya beli masyarakat dan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Daftar Harga Mobil Listrik Jelang Penghapusan TKDN (Bloomberg Technoz/Asfahan)

Di sisi lain, kehadiran EV dinilai membuat konsumen kini memiliki opsi baru yang lebih kompetitif. Walaupun demikian, menurut Bebin, kendaraan listrik juga masih memiliki sejumlah tantangan seperti nilai jual kembali dan keandalan jangka panjang yang belum sepenuhnya teruji.

“Memang EV belum bisa menjanjikan berapa harga bekasnya nanti. Soal kehandalan belum ada yang bisa membagikan pengalaman karena brand masih baru. Hal-hal ini yang dipertaruhkan sebagai konsumen,” bebernya.

Produk EV Mendominasi Mobil Global

Di sisi lain, penjualan mobil listrik global diperkirakan mencapai 23 juta unit pada 2026 atau hampir 30% dari total mobil yang terjual di seluruh dunia. Proyeksi tersebut tercatat dalam laporan terbaru Global EV Outlook yang dirilis International Energy Agency.

Dalam laporan itu, IEA menyebut penjualan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) terus menunjukkan penguatan meski dunia tengah menghadapi krisis energi akibat perang di Timur Tengah. Di mana, popularitas EV dinilai meningkat karena konsumen mencari alternatif di tengah fluktuasi harga bahan bakar.

IEA mencatat, sepanjang tahun 2025 penjualan mobil listrik global tercatat tumbuh 20% hingga melampaui 20 juta unit. Artinya, sekitar 25% dari seluruh mobil baru yang terjual di dunia tahun lalu merupakan kendaraan listrik.

Asia Tenggara menjadi salah satu kawasan dengan pertumbuhan EV tercepat. Penjualan mobil listrik di kawasan tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat sepanjang 2025 hingga pangsa pasarnya mendekati 20%.

Menurut proyeksi terbaru, pangsa kendaraan listrik di Asia Tenggara berpotensi melonjak menjadi 60% pada 2035, didukung harga kendaraan yang semakin kompetitif serta kebijakan insentif pemerintah. 

Vietnam sebagai pasar EV terbesar di kawasan, telah mengumumkan rencana memperluas insentif pajak kendaraan listrik sebagai respons terhadap krisis energi global.

(mef/ell)

No more pages