"Sampai sekarang produksi sudah diizinkan, tetapi belum full; kurang dari 10% hanya untuk memenuhi kebutuhan di internal Irak. Jadi belum kembali seperti semula," ujarnya.
Gas Blok Rokan
Selain kendala terhadap asetnya di luar negeri, PHE mengaku menghadapi isu di fasilitas produksi dalam negerinya. Salah satunya adalah gangguan rantai pasok gas di Blok Rokan.
Menurut Awang, gangguan tersebut dipicu masalah integritas atau kebocoran pada pipa transportasi gas Indonesia selama lebih dari 20 hari.
"Itu yang menyebabkan rata-rata produksi minyak kita—terutama di Rokan — menurun cukup tajam," kata dia.
Di sisi lain, salah satu wilayah kerja yang dikelola PHE bersama ExxonMobil—yaitu Banyu Urip, yang merupakan bagian dari Blok Cepu di Jawa Timur — juga mengalami hambatan peningkatan produksi gas akibat keterbatasan fasilitas yang tersedia.
Kombinasi sejumlah kendala tersebut membuat produksi minyak PHE hingga 3 April 2026 tercatat sebesar 475.000 bph; terdiri dari produksi domestik 367.000 bph dan internasional 109.000 bph.
Awang juga menegaskan saat ini industri hulu migas Tanah Air menghadapi tantangan utama berupa penurunan produksi secara alamiah (natural decline), dengan laju penurunan sekitar 24% untuk minyak dan 21% untuk gas per tahun.
Untuk mengatasi tekanan tersebut, PHE menjalankan berbagai aktivitas operasi, termasuk hampir 900 sumur pengeboran pengembangan, hampir 1.300 kegiatan workover, serta lebih dari 37.000 pekerjaan well intervention.
Dari sisi eksplorasi, PHE tercatat memperoleh wilayah kerja baru pada periode 2022—2025, yaitu; Binaiya, Lavender, dan Bobara yang potensinya akan dimaksimalkan ke depan.
Selain itu, perusahaan akan melanjutkan eksplorasi migas nonkonvensional (MNK) di Riau melalui pengeboran 2—3 sumur serta mengembangkan sejumlah proyek strategis lain; termasuk enhanced oil recovery (EOR), multistage fracturing, hingga peluang bisnis carbon capture and storage (CCS).
(wdh)































