"Ini semua menunjukkan bahwa APBN kita ekspansif tetapi masih terukur. Jadi memang ini di dalam situasi global yang tidak mudah, memang kita harus menjaga dua-duanya," kata dia.
"Bagaimana APBN ini bisa menjadi pendorong perekonomian, pada saat yang sama, dia juga harus menjaga disiplin fiskal di tengah kenaikan harga minyak. Dan ini dua-duanya berhasil tampak dari growth yang tinggi, inflasi yang terjaga, defisit juga yang terjaga."
Sumber Utama Krisis Tak Terlihat di RI
Juda lantas menjelaskan, berdasarkan indikator-indikator utama yang diamati saat ini, setidaknya ada tiga sumber utama krisis yang kerap terjadi di berbagai negara. namun belum terlihat tanda-tandanya di Indonesia.
Sumber pertama, kata dia, adalah krisis yang berasal dari sisi fiskal, seperti yang pernah dialami negara-negara Amerika Latin pada dekade 1980-an. Saat itu, defisit anggaran pemerintah membengkak hingga pembiayaan negara kehilangan kepercayaan pasar.
"Yang pertama adalah di Latin Amerika tahun 80-an itu yang disebut dengan krisis fiskal, debt crisis. Yaitu ketika fiskalnya, defisit fiskal membengkak dan pemerintah tidak bisa lagi menutup melalui pembiayaannya karena tidak ada lagi orang yang percaya. Mengeluarkan bonds, nggak ada yang beli. Jadi terjadilah krisis fiskal di Latin Amerika," ujarnya.
Namun kondisi Indonesia dinilai berbeda. Menurutnya, defisit anggaran saat ini masih terjaga dan kepercayaan investor terhadap instrumen pemerintah tetap kuat.
Ia menilai kepercayaan pasar masih tercermin dari pergerakan imbal hasil atau yield surat utang negara yang belum menunjukkan lonjakan tajam.
"Kalau investor tidak percaya pada yield kita, pada fiskal kita maka yield-nya akan melonjak. Sekarang ini di sekitar 6,5-6,7%. Ada peningkatan tapi tidak signifikan," tuturnya.
Sumber krisis kedua, lanjutnya, berasal dari neraca pembayaran seperti yang dialami Indonesia saat krisis 1997-1998. Kala itu, perusahaan-perusahaan banyak menarik pinjaman luar negeri dan terpukul ketika terjadi pelemahan nilai tukar serta penghentian aliran dana secara mendadak.
"Ia lagi-lagi enilai kondisi saat ini jauh berbeda karena indikator eksternal Indonesia relatif lebih stabil. "Saat ini kalau kita lihat angka-angka neraca pembayaran kita relatif sehat dan relatif balance. Jadi dari krisis neraca pembayaran tidak ada tanda-tanda itu," ujar dia.
Sementara, sumber ketiga adalah krisis yang berasal dari sektor keuangan, seperti krisis global 2008 di Amerika Serikat akibat gelembung aset atau bubble yang pecah.
"Yang terakhir, krisis itu bisa muncul dari sistem keuangan. Lending besar-besaran, ya bubble terjadi di berbagai sektor termasuk sektor properti misalnya," kata dia. "Tanda-tanda itu tidak ada juga di kita. Jadi tiga sumber krisis itu tidak ada di dalam data-data yang kita amati sampai dengan hari ini."
(lav)






























