Rupiah saat ini tengah menghadapi tekanan struktural yang datang dari data defisit neraca pembayaran. Bank Indonesia (BI) pekan lalu mengumumkan neraca pembayaran kuartal I-2026 tercatat defisit US$9,15 miliar. Jauh lebih dalam daripada defisit kuartal sebelumnya US$6,07 miliar.
Defisit jasa juga tercatat meningkat menjadi US$4,6 miliar dari sebelumnya US$3,5 miliar. Sementara, defisit pendapatan primer tetap sangat besar di US$9,2 miliar.
Di sisi lain, mesin penghasil devisa Indonesia mulai kehilangan tenaganya. Hal ini terlihat dari menyusutnya surplus perdagangan barang dari US$10,2 miliar, berkurang menjadi hanya US$8 miliar.
Di tengah kondisi dan sentimen yang ada, sepertinya ruang penguatan rupiah masih terhalang. Melihat arah pergerakan rupiah pada sesi pembukaan, kemungkinan rupiah berpotensi kembali terdepresiasi di rentang Rp17.750/US$ hingga 17.850/US$.
(dsp/aji)





























