Warsh memegang kendali kepemimpinan saat semakin banyak pejabat The Fed mulai meninggalkan sikap pelonggaran moneter mereka. Anggota Dewan Gubernur The Fed Christopher Waller—pejabat pilihan Trump yang awal tahun ini sempat mendukung penurunan suku bunga untuk melindungi pasar tenaga kerja—menyatakan pada hari Jumat bahwa langkah The Fed berikutnya kini memiliki peluang yang sama besar, baik untuk naik maupun turun. Sejumlah pembuat kebijakan lainnya, termasuk Wakil Gubernur Philip Jefferson dan Gubernur The Fed New York John Williams, juga dijadwalkan akan memberikan pernyataan pada pekan ini.
Saat Warsh dilantik pada hari Jumat, Trump, yang berulang kali menekan The Fed untuk menurunkan biaya pinjaman, justru menyatakan bahwa dirinya ingin Warsh memimpin bank sentral tersebut secara independen.
Merespons kenaikan imbal hasil dan kalkulasi potensi kenaikan suku bunga ini, beberapa investor mulai beralih memburu obligasi AS jangka pendek. Salah satunya adalah Chitrang Purani, manajer portofolio di Capital Group.
"Saya percaya bahwa standar tolok ukur untuk menaikkan suku bunga masih cukup tinggi. The Fed di bawah kepemimpinan Warsh mungkin ingin sedikit lebih sabar sebelum mengambil langkah berikutnya, demi memahami sepenuhnya bagaimana inflasi bertransmisi ke pasar tenaga kerja dan kondisi keuangan," ujar Purani. "Secara pribadi, saya tidak melihat fungsi reaksi The Fed terhadap data ekonomi akan berbeda secara material di bawah kendali Warsh dibandingkan dengan masa lalu."
Selain mencermati arah pernyataan para pejabat The Fed, para pelaku pasar obligasi pada pekan ini juga akan fokus memantau jalannya lelang surat utang AS (Treasury) tenor dua, lima, dan tujuh tahun untuk melihat seberapa besar tingkat permintaan dari investor.
(bbn)































