Data Bursa Efek Indonesia (BEI) memperhitungkan nilai perdagangan mencapai Rp18,49 triliun dari sejumlah 35,77 miliar saham yang ditransaksikan. Dengan frekuensi menyentuh 2,14 juta kali diperjualbelikan.
Tercatat hanya ada penguatan 88 saham, dan sebanyak–banyaknya 663 saham terjadi pelemahan. Sisanya 69 saham stagnan.
Adapun saham energi, saham barang baku, dan saham konsumen non primer menjadi yang melemah paling dalam, dengan masing–masing minus 6,91%, 6,52% dan 6,05%.
Saham–saham big caps pemberat IHSG hingga menempati jajaran top losers.
- Astra International (ASII) mengurangi 15,03 poin
- Bumi Resources Minerals (BRMS) mengurangi 14,32 poin
- Bayan Resources (BYAN) mengurangi 11,58 poin
- Ekamas Mora Republik (MORA) mengurangi 11,26 poin
- Barito Pacific (BRPT) mengurangi 10,74 poin
- Telkom Indonesia (TLKM) mengurangi 10,49 poin
- Dian Swastatika Sentosa (DSSA) mengurangi 8,86 poin
- Barito Renewables Energy (BREN) mengurangi 8,15 poin
- Chandra Asri Pacific (TPIA) mengurangi 8,1 poin
- Merdeka Gold Resources (EMAS) mengurangi 7,51 poin
Sejumlah saham LQ45 unggulan lainnya juga menjadi pemberat laju IHSG, saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) yang turun 14,8%, saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) amblas 11,6%, dan juga saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) melemah 9,32%.
Senada dengan saham PT XLSmart Tbk (EXCL) drop 8,59%, saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) melemah 7,23%, dengan saham PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) terpeleset 6,85% hingga menjadi pemberat IHSG.
Sebagian Bursa Asia justru berhasil melenggang di zona hijau. KOSPI (Korea Selatan), KOSDAQ (Korea), TAIEX (Taiwan), NIKKEI 225 (Jepang), TOPIX (Jepang), PSEI (Filipina), SETI (Thailand), dan Straits Time (Singapura), yang berhasil menguat pada tutup dagang hari ini.
Rupiah Melemah Mendekati Level Terendah Sepanjang Sejarah
Depresiasi rupiah menjadi sentimen negatif bagi IHSG. Menutup perdagangan hari ini, rupiah berada di posisi Rp17.654/US$. Mata uang Tanah Air melemah 0,28% pada Kamis (21/5/2026).
Rupiah semakin tergerus hingga sempat mencapai Rp17.685/US$ yang menjadi titik terlemahnya secara intraday. Mendekati level All Time Low–nya di posisi Rp17.705/US$, berdasarkan data Bloomberg.
Sejumlah tekanan masih membayangi pergerakan rupiah biarpun Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter telah mengambil langkah agresif dan preventif dengan mengerek suku bunga acuan BI Rate melampaui ekspektasi pasar menjadi 5,25%.
Sejumlah kebijakan pemerintah dinilai berisiko memperburuk kondisi fiskal, karena dinilai terlalu populis dan menelan anggaran jumbo. Terlebih di tengah rasio penerimaan negara terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang posisinya yang paling rendah di antara anggota G20.
Sebagai catatan, rupiah telah melemah sekitar 5,5% sepanjang tahun ini. Sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 29%, dan yield obligasi pemerintah masih berada di posisi tinggi.
Panin Sekuritas memaparkan alasan aksi jual yang masih cukup besar, utamanya, sentimen pasar tengah tertekan utamanya setelah pengumuman pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia sebagai badan pengaturan ekspor komoditas terpusat. Perusahaan tersebut nantinya akan menjadi pelaksana utama pengelolaan ekspor komoditas strategis Indonesia secara bertahap dimulai dari proses transisi sejak 1 Juni 2026 hingga berjalan penuh mulai 1 September 2026.
“Tak lupa juga wacana pengenaan royalti dan pungutan tambahan lainnya masih membayangi sektor komoditas dan bahan baku domestik,” terang Panin dalam catatan terbarunya, Kamis.
Lalu, Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuannya, BI Rate, sebesar 50 bps menjadi 5,25%, menegaskan posisinya untuk menjaga stabilitas rupiah jangka pendek. Namun demikian, ini akan kurang akomodatif terhadap narasi pertumbuhan domestik.
(fad)





























