Rikky menambahkan saat ini Kufpec juga mulai membuka data proyek kepada calon mitra potensial. “Dia buka data sih sekarang,” ucap Rikky.
Adapun, Kementerian ESDM kembali memasukkan Natuna D-Alpha sebagai salah satu WK yang dilelang dalam putaran lelang perdana 2026.
Natuna D-Alpha ditawarkan oleh Kementerian ESDM lewat jalur direct offer tender atau penawaran langsung.
Dijelaskan bahwa WK Natuna D Alpha yang terletak di offshore Natuna dengan luas area sekitar 10.211,85 km2. Potensi sumber daya di WK tersebut diperkirakan mencapai 2.865 juta barel minyak (MMBO).
Direktur Pembinaan Usaha Hulu Migas Ariana Soemanto menyatakan studi bersama WK Natuna D-Alpha telah rampung dilakukan, sehingga Ditjen Migas kembali membuka lelang lapangan gas tersebut.
“Udah selesai joint studi-nya jadi dibuka, dilelang. Nanti siapa yang mau, kita lihat,” kata Ari di sela IPA Convex, Rabu (20/5/2026), malam.
Dengan begitu, Kufpec bakal memiliki waktu hingga 45 hari untuk mengikuti proses lelang dan memutuskan bakal menggarap WK tersebut atau tidak.
“Lanjut apa enggak kan nanti tergantung dia submit lagi atau enggak. Nanti kita lihat dalam 45 hari,” tegas Ari.
Sekadar informasi, proyek gas yang bersinggungan langsung dengan Laut China Selatan (LCS) itu mangkrak lebih dari setengah abad, sejak pertama kali ditemukan pada 1973.
Kufpec mulai melakukan joint study di prospek Natuna D-Alpha pada 2024, setelah PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mengembalikan blok tersebut kepada pemerintah dua tahun sebelumnya.
Serampung joint study, Kufpec mengundang sejumlah kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) potensial untuk ikut bergabung pada megaproyek tersebut.
Sejumlah KKKS yang didekati memiliki portofolio di lepas pantai Kepulauan Natuna. Beberapa nama yang sempat berseliweran di antaranya PHE dan PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC).
Kendati demikian, bos MEDC Hilmi Panigoro sebelumnya menampik ihwal keterlibatan grupnya pada megaproyek tersebut. “Tidak ikut,” kata Hilmi di sela pergelaran IPA Convex di ICE BSD, Selasa (20/5/2025).
Sementara itu, sumber Bloomberg Technoz menuturkan, PHE belakangan menarik diri dari tawaran yang diajukan Kufpec.
Alasannya, perusahaan negara itu ingin fokus untuk mengembangkan Blok East Natuna, portofolio PHE yang bersebelahan dengan struktur gas Natuna D-Alpha.
“PHE sudah tidak tertarik untuk D-Alpha, sedang fokus blok East Natuna, tidak termasuk D-Alpha,” kata sumber.
Di sisi lain, Vice President Corporate Relations Shell Indonesia Susi Hutapea mengatakan grupnya tengah menjajaki peluang investasi di sisi hulu migas Indonesia.
Susi menerangkan penjajakan itu sejalan dengan evaluasi eksplorasi Shell Global.
“Termasuk melalui proses kesepakatan studi bersama hulu migas,” kata Susi saat dikonfirmasi.
Susi enggan berkomentar terkait dengan persamuhan yang tengah berlangsung dengan Kufpec untuk pengembangan Natuna D-Alpha.
(azr/wdh)
































