Logo Bloomberg Technoz

Dia mengungkapkan proyek percontohan tersebut bakal dilakukan di sejumlah kota besar, Jakarta, Semarang, Bandung, hingga Surabaya.

Impor Tabung

Dalam kesempatan itu, Laode mengungkapkan Indonesia sedang mempertimbangkan mengimpor tabung CNG berukuran 3 kg sekitar 100.000 unit dari China.

Laode mengungkapkan proses pengujian tabung CNG 3 kg sedang dilakukan dan untuk memesan tabung dengan ukuran tersebut dibutuhkan minimal pembelian sekitar 100.000 tabung.

Dia memastikan impor tersebut bakal dilakukan oleh badan usaha, namun dia tak menjelaskan apakah badan usaha milik negara (BUMN) atau pihak swasta yang bakal mengimpor tabung tersebut.

“Jadi, kita sekarang fokus kepada proses pengujian. Proses pengujian ini butuh tabung yang riil. Untuk bisa kita dapatkan tabung yang riil, minimum kita harus pesan 100.000,” kata Laode.

“Namun, ini yang lakukan calon badan usahanya ya, bukan kita. Mereka yang sedang berproses sekarang,” tegas dia.

Dia juga belum dapat mengungkapkan kisaran nilai impor tabung CNG dengan besaran minimal 100.000 unit tersebut.

Laode hanya mengungkapkan Menteri ESDM saat ini masih menugaskan Ditjen Minerba untuk menyiapkan skema bisnis program CNG 3 kg tersebut.

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut pengujian tabung CNG 3 kg akan dilakukan di China dan Indonesia.

“Ada dua. Satu, karena pabriknya itu ada di China, dan yang kedua adalah kita akan melakukan di Indonesia, ya,” ungkap Bahlil di Istana Negara, Senin (18/5/2026).

Lebih jauh, Bahlil kembali menggarisbawahi CNG ukuran tabung 12 kg dan 20 kg sudah lebih dahulu dipasarkan di Indonesia.

“Di hotel-hotel, restoran, di MBG itu [CNG 12 dan 20 kg] sudah jalan, tetapi kan kita lagi melakukan uji coba terhadap tabung yang 3 kilogram untuk rakyat,” tambahnya.

Untuk pengujian CNG 3 kg ungkap Bahlil akan memfokuskan pada keamanan, mengingat daya tekan CNG yang lebih besar dibandingkan dengan gas jenis lainnya, seperti gas minyak cair atau liquefied petroleum gas (LPG) dan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).  

Sebagai pembanding, berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Minyak dan Gas (Migas) Kementerian ESDM, CNG memiliki tekanan cukup tinggi; yakni sekitar 200 hingga 250 bar (sekitar 3.000—3.600 psi), sehingga membutuhkan tabung yang sangat tebal dan kuat.

LPG memiliki tekanan jauh lebih rendah, berkisar 5 hingga 10 bar (untuk tabung rumah tangga) hingga maksimal sekitar 18—24 bar. Lalu, LNG memiliki tekanan yang paling rendah, umumnya hanya sekitar 2 hingga 10 bar.

Sekadar informasi, Kementerian ESDM sedang mengkaji penggunaan tabung CNG tipe 4, yakni tabung dengan bahan plastik atau polimer dan dibungkus dengan komposit atau carbon fiber serta fiberglass untuk digunakan sebagai bahan tabung CNG 3 kg.

Pengembangan tabung CNG dengan volume 3 kg tersebut diklaim memakan waktu 3 bulan, setelah itu produksi tabung CNG 3 kg bakal dimasifkan sehingga dapat segera digunakan masyarakat.

Kementerian ESDM juga memastikan penggunaan CNG dalam tabung 3 kg untuk kebutuhan rumah tangga tidak memerlukan penggantian kompor.

Dengan begitu, kompor LPG yang saat ini digunakan masyarakat dapat langsung menggunakan CNG.

Nantinya masyarakat tak perlu menyesuaikan kompor yang dimiliki dengan memasang pengonversi (converter) atau alat lainnya.

(azr/wdh)

No more pages