Lesatan harga emas terjadi karena euforia pasar terkait situasi di Timur Tengah. Harapan perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali terlihat.
Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa Negeri Paman Sam telah memasuki fase akhir dalam perundingan dengan Iran.
“Kita lihat saja apa yang terjadi. Kesepakatan akan terjadi atau kami akan melakukan sesuatu yang sedikit kejam, tetapi kami harap itu tidak terjadi,” kata Trump, sebagaimana diwartakan Bloomberg News.
Potensi berakhirnya perang tentu akan kembali membuka jalan di Selat Hormuz. Selat ini adalah area vital, rute pelayaran berbagai komoditas utama dunia, khususnya energi.
Asa akan dibukanya kembali Selat Hormuz membuat harga minyak jatuh. Kemarin, harga minyak jenis brent ambruk 5,63% ke US$ 105,02/barel.
Jika harga energi tidak lagi melambung tinggi, maka dunia bisa lepas dari ancaman inflasi. Dengan demikian, bank sentral di berbagai negara bisa punya ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga acuan.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas akan terasa lebih menguntungkan saat suku bunga bisa turun.
(aji)




























