Logo Bloomberg Technoz

Dia menjelaskan alokasi gas untuk kebutuhan domestik akan disalurkan ke sektor kelistrikan, pupuk, hingga jaringan pipa gas nasional.

Untuk industri pupuk, penyaluran gas akan dilakukan melalui pipa, sedangkan sebagian volume lainnya akan dipasarkan dalam bentuk gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).

Ekspor ke Jepang

Djoko menambahkan salah satu pembeli LNG dari Blok Masela berasal dari Jepang dengan permintaan mencapai sekitar 2 juta hingga 2,5 juta ton per tahun (mtpa).

Selain itu, kata Djoko, terdapat pembeli lain dari perusahaan internasional; Eni SpA hingga BP plc—tetapi dia belum mengungkapkan volume permintaannya.

“Selain Jepang ada juga, ada dua, Eni Spa, BP trader,” katanya.

Dalam pagelaran IPA Convex, Djoko juga menyaksikan langsung sejumlah penandatangan kerja sama lainnya; a.l. penandatanganan head of agreement (HoA) proyek LNG North Hub bersama PGN Group.

Selain itu, terdapat penandatanganan joint study agreement (JSA) kerja sama cross-border carbon capture and storage (CCS) antara PT Pertamina Hulu Energi (PHE), ExxonMobil, SK Innovation, dan SK Earthon.

Sekadar informasi, Djoko sebelumnya mengungkapkan proses negosiasi penjualan LNG dari Blok Masela mengerucut pada lima perusahaan energi global, yang terdiri dari dari Osaka Gas Jepang, Kyushu Elektrik Jepang, Shell Trading, BP Trading, dan Chevron Trading.

Djoko kala itu mengatakan penjajakan pembelian LNG tersebut sebelumnya melibatkan 66 calon pembeli. Jumlah itu kemudian menyusut menjadi 40, lalu sembilan perusahaan, hingga akhirnya tersisa lima calon pembeli yang tengah membahas ketentuan utama kontrak bersama konsorsium pengembang proyek.

“Negosiasi lanjutan penjualan LNG Masela dari 66 calon buyer mengerucut menjadi 40, kemudian sembilan buyer, dan terakhir tinggal lima buyer yang membahas key term dengan tim teknis,” ujar Djoko melalui pernyataan tertulis, Minggu (15/3/2026).

Menurut Djoko, dalam tahap negosiasi terakhir yang berlangsung di Singapura dan Tokyo, pihak penjual dan pembeli telah menyampaikan proposal harga final masing-masing. Selisih penawaran harga di antara kedua pihak saat ini makin kecil.

“Perbedaan harga yang diajukan tinggal sekitar ±0,2% dari harga minyak Brent,” kata dia.

Adapun, penawaran harga dari para calon pembeli berada di kisaran rata-rata sekitar 12% dari harga minyak Brent.

Sementara itu, konsorsium penjual LNG yang terdiri dari operator proyek Inpex, bersama Pertamina dan Petronas, menawarkan harga di atas asumsi harga yang digunakan dalam dokumen pengembangan proyek.

Dalam dokumen rencana pengembangan atau plan of development (PoD) proyek Masela, sekitar 60% produksi LNG direncanakan untuk pasar ekspor dan 40% untuk kebutuhan domestik.

Djoko menambahkan setelah penandatanganan kontrak penjualan LNG, tahap berikutnya adalah negosiasi dengan lembaga keuangan untuk pembiayaan proyek Abadi LNG di Masela.

Pemerintah menargetkan keputusan investasi akhir atau final investment decision (FID) proyek tersebut dapat dicapai pada Desember 2026.

Proyek LNG Abadi di Blok Masela merupakan salah satu proyek gas terbesar yang tengah didorong pemerintah untuk meningkatkan produksi gas nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar LNG global.

Proyek ini dioperasikan oleh Inpex dengan partisipasi Pertamina dan Petronas.

Lapangan gas Masela diperkirakan memiliki cadangan sekitar 18,4 triliun kaki kubik (TCF) dengan kapasitas produksi LNG yang direncanakan mencapai sekitar 9,5 juta mtpa, disertai produksi gas pipa dan kondensat.

(azr/wdh)

No more pages