Logo Bloomberg Technoz

Belanja Subsidi & Kompensasi Naik 223% di Tengah Gejolak Minyak

Mis Fransiska Dewi
20 May 2026 08:00

Sejumlah pengendara mengantre mengisi BBM di SPBU Pertamina, Jakarta Selatan, Selasa (31/3/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Sejumlah pengendara mengantre mengisi BBM di SPBU Pertamina, Jakarta Selatan, Selasa (31/3/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan belanja subsidi dan kompensasi hingga 30 April 2026 mencapai Rp153,1 triliun atau meningkat 223,1%. Hal itu terjadi di tengah konflik di Timur Tengah yang berdampak pada harga minyak dunia khususnya Brent yang melambung mencapai US$111,28/barel.

Secara terperinci Purbaya memaparkan belanja subsidi per April 2026 mencapai Rp74,9 triliun sedangkan pembayaran kompensasi sebesar Rp78,2 triliun. 

“Belanja subsidi kompensasi untuk menjaga diri beli masyarakat, ya kita bayar dengan sesuai dengan yang diminta oleh PLN dan Pertamina. Sekarang sudah betul kan, Januari, Februari, Maret itu selalu kita bayar, subsidi harus semuanya penuh, tapi untuk kompensasinya kita bayar 70%, 70%, 70%,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita, Selasa (19/5/2026) malam. 


Dengan skema tersebut, Purbaya menyebut kondisi keuangan PT Pertamina (Persero) maupun PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN akan lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. 

Sehingga ketika Pertamina ingin menambah impor minyak dengan harga yang lebih tinggi, perusahaan migas pelat merah tersebut tidak pernah lagi meminta anggaran ke pemerintah.