Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, pergerakan rupiah yang cenderung melemah juga menjadi salah satu penyebab investor semakin berhati-hati memegang obligasi di pasar domestik lantaran risiko jadi lebih besar. 

Di sisi lain, lelang sukuk kali ini juga menunjukkan adanya penurunan kualitas permintaan dari investor yang tercermin dari bid-to-cover ratio  alias rasio penawaran yang masuk terhadap dana yang diterima pemerintah dalam lelang.

Dari tabel berikut terlihat bahwa pasar sepertinya sedang defensif secara umum, tetapi tekanan memang tidak merata di seluruh tenor. Ada seri yang justru diburu investor, sementara tenor panjang semakin ditinggalkan.

Rasio tinggi di atas 2 kali mengindikasikan permintaan yang sangat kuat. Sementara rasio rendah di bawah 1 kali menunjukkan permintaan yang lemah. Artinya, dana yang ditawarkan investor lebih sedikit daripada target yang ingin dilelang. 

Bid to cover ratio lelang sukuk 19 Mei. (DJPPR, diolah)

Tekanan dalam lelang sukuk kali ini datang di tengah kondisi ekonomi global yang masih sarat dengan ketidakpastian. Kenaikan yield US Treasury terjadi akibat adanya ekspektasi suku bunga The Fed yang bertahan ketat lebih lama, semakin mengurangi selisih imbal hasil, dan membuat aset dolar AS jadi lebih menarik. 

Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga ikut mendorong lonjakan harga minyak mentah dan memperkuat posisi dolar AS secara global. Di tengah kondisi ini, investor pun menaikkan premi risiko. 

Dalam konteks pasar surat berharga negara, menjaga kepercayaan pasar menjadi penting. Sebab, jika volatilitas rupiah terus berlanjut, yield di pasar surat utang berpotensi naik. Sepertinya, pasar tengah bersiap dan mengirim sinyal untuk menghadapi era suku bunga tinggi yang lebih panjang dari perkiraan sebelumnya. 

(dsp)

No more pages