Logo Bloomberg Technoz

Dia selalu mengikuti rapat dengan Dewan Gubernur BI setiap bulannya untuk memantau perkembangan kondisi pasar keuangan domestik.

Di sisi lain, dia menegaskan, pemerintah tengah berupaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi awal tahun ini. Misalkan, kata dia, belanja negara telah naik sekitar 20% pada kuartal I-2026.

Adapun hingga April, pertumbuhan belanja negara tercatat mencapai 34,3%. Jika memperhitungkan inflasi sekitar 3%, maka pertumbuhan riil belanja pemerintah masih berada di atas 30%.

“Jadi memang itu tujuan kita, menjaga pertumbuhan ekonomi,” ujar Juda.

Pergerakan IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tajam pada perdagangan siang hari Sesi II. Pelemahan IHSG yang signifikan ini menyeret hingga menjadi yang paling dalam di Bursa Asia.

Pada Rabu (18/5/2026), IHSG tengah melaju di posisi 6.472. Turun 3,73% dan 250,72 poin dibanding dengan perdagangan sebelumnya. Sedang indeks LQ45 juga jatuh 3,06% dan 20,11 poin ke level 637,77 per pukul 13:40 WIB dimulainya Sesi II.

IHSG Penutupan Sesi I pada Senin 18 Mei 2026 (Bloomberg)

Posisi tertinggi IHSG hari ini ada di 6.631 sedang terendahnya tersentuh di 6.398. Volume perdagangan melibatkan 22,58 miliar saham. Dengan nilai perdagangan Rp12,86 triliun. Frekuensi yang terjadi mencapai 1,82 juta kali transaksi jual–beli.

Sebanyak 690 saham mengalami penurunan, dan hanya ada 79 saham yang menguat. Sedangkan ada 50 saham stagnan.

Saham–saham barang baku jadi yang terlemah hari ini jatuh sedalam 8,14%. Disusul oleh saham transportasi yang ambruk 6,11% dan saham perindustrian melemah 4,79%.

Rupiah ditutup pada level terendah sepanjang sejarah Rp17.656/US$, Senin (18/5/2026). (Bloomberg)

Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, menguatnya dolar AS dan jatuhnya harga obligasi menjadi sorotan setelah data inflasi terbaru menunjukkan dampak nyata dari gangguan energi akibat perang di Iran.

Terlebih lagi, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melanjutkan tren pelemahan hingga siang hari ini, Senin (18/5/2026), tergerus 1,15% pada menembus  Rp17.665/US$ yang merupakan posisi terlemah sepanjang sejarah.

Pasar juga mulai melihat adanya potensi tekanan ganda terhadap APBN dalam bentuk subsidi energi yang diproyeksikan membengkak, sementara penerimaan negara belum cukup kuat untuk menopang ekspansi belanja yang agresif.

Ketidakpastian tersebut membuat investor mulai meminta premi risiko yang lebih tinggi terhadap aset Indonesia, baik di pasar obligasi maupun nilai tukar, seiring adanya kekhawatiran tersebut. 

Di tengah tekanan tersebut, perhatian pasar masih tertuju pada langkah Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG BI) pekan ini.

Konsensus Bloomberg sejauh ini mulai memperkirakan Bank Indonesia (BI) bakal menaikkan suku bunga acuan 5% dalam pertemuan Mei. Lonjakan harga minyak dinilai cukup kuat jadi alasan.

-- dengan asistensi Sultan Ibnu Affan

(cpa/naw)

No more pages