Pemerintahan Presiden AS Donald Trump resmi mengakhiri relaksasi sanksi yang mendorong lebih banyak penjualan minyak mentah Rusia, bahkan ketika perang Iran memicu kekhawatiran tentang pasokan minyak global dan biaya bahan bakar yang lebih tinggi.
Berakhirnya pengecualian sanksi tersebut secara efektif menghentikan untuk sementara waktu periode singkat di mana pemerintahan Trump melonggarkan sanksi terhadap beberapa minyak Rusia, sehingga memungkinkan pembelian yang seharusnya dilarang.
Pemerintahan Trump mengeluarkan pengecualian pertama pada Maret dan yang kedua setelah yang pertama berakhir pada April. Keduanya hanya berlaku untuk sebagian kecil minyak Rusia yang telah dimuat ke kapal tanker.
Adapun, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mbahas lanjutan rencana pembelian minyak mentah dengan volume total 150 juta barel hingga kelanjutan pengembangan Grass Root Refinery (GRR) Tuban dengan Pemerintah Rusia.
Pembahasan tersebut dilakukan di sela Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-14 Indonesia–Rusia, yakni pertemuan terbatas Co-Chairs SKB Indonesia–Rusia.
Dia menambahkan, dalam pertemuan terbatas tersebut kedua negara membahas tindak lanjut rencana pembelian minyak, pengembangan ladang migas, perkembangan proyek Kilang Tuban, hingga kerja sama energi nuklir.
Setelah itu, pada sesi Plenary Sidang Komisi Bersama ke-14 RI–Rusia, Yuliot menyoroti pentingnya penguatan investasi dan kerja sama teknologi energi antara Indonesia dan Rusia guna mendukung ketahanan energi dan transisi energi bersih.
“Kerja sama di sektor energi [dengan Rusia] telah menghasilkan berbagai komitmen investasi di sektor hulu minyak dan gas bumi dan kilang minyak, ketenagalistrikan berbasis energi baru dan terbarukan, termasuk rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir modular kecil," kata Yuliot melalui siaran pers, Kamis (14/5/2026).
"Hal ini sejalan dengan prioritas nasional dalam memperkuat ketahanan energi, baik untuk bahan bakar minyak maupun listrik,” lanjutnya.
Sekadar catatan, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan sedang membahas teknis pengiriman minyak mentah dari Rusia dan pembahasannya ditargetkan rampung dalam 1—2 pekan mendatang.
Dengan begitu, rencana Indonesia mengimpor minyak Rusia dengan volume total 150 juta barel akan semakin dekat dieksekusi. Terlebih, kata Bahlil, kontrak jual–beli minyak mentah sudah diteken oleh Rusia dan Indonesia.
“Secara deal sudah, kontrak sudah, sekarang bicara tentang teknik pengirimannya. Dan mungkin 1—2 minggu ini sudah bisa,” kata Bahlil kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Senin (11/5/2026).
Selain minyak mentah, Indonesia juga berencana membeli gas minyak cair atau liquefied petroleum gas (LPG) dari Rusia, tetapi volume hingga kontrak pembelian masih dilakukan pembahasan.
(azr/wdh)




























