Logo Bloomberg Technoz

Terlihat bahwa pelemahan sejumlah mata uang Benua Kuning lebih dalam dari rupiah. Namun bisa saja rupiah tertolong oleh pekan perdagangan yang pendek.

Keperkasaan dolar AS menjadi penyebab kelesuan mata uang Asia. Minggu ini, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) menguat 1,4%.

Kemarin, indeks ini bahkan menyentuh posisi tertinggi 7 April atau lebih dari sebulan terakhir.

Dollar Index (Sumber: Bloomberg)

Perang di Timur Tengah menjadi pendongkrak performa dolar AS. Perang yang meletus sejak akhir Februari itu telah melambungkan harga energi.

Akibatnya, ancaman inflasi menjadi begitu nyata. Austan Goolsbee, Gubernur Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) Chicago, bahkan sampai menyebut inflasi bisa begitu tinggi sehingga menyebabkan ekonomi menjadi terlalu panas alias overheating.

“Jika Anda melihat komponen non-energi, seperti jasa, maka ada indikasi bahwa ekonomi sudah overheating. The Fed harus berpikir bagaimana memecah rantai eskalasi inflasi,” tegas Goolsbee dalam wawancara dengan NPR, seperti dikutip Bloomberg News.

Pada April, inflasi di Negeri Adidaya mencapai 3,8% year-on-year (yoy). Ini adalah laju tercepat sejak 2023.

Alhasil, muncul ekspektasi di pasar bahwa kenaikan suku bunga acuan mungkin akan sulit dihindari. Ada kemungkinan The Fed akan mengerek Federal Funds Rate tahun depan.

Saat ada potensi kenaikan suku bunga, maka aset-aset berbasis dolar AS (terutama yang berpendapatan tetap seperti obligasi) menjadi menarik. Ini yang membuat mata uang Negeri Adikuasa begitu perkasa pekan ini, dan menggilas mata uang Asia.

“Ini adalah kombinasi eskalasi konflik di Timur Tengah, yang membuat harga minyak naik dan inflasi ikut terungkit. Saya melihat walau konflik di Iran mereda, tetapi dolar AS akan mempertahankan kekuatannya,” kata Andrew Hazlett, FX Trader di Monex Inc, juga dinukil dari Bloomberg News.

Sementara dari dalam negeri, ada faktor musiman yang membuat rupiah tertekan yaitu periode pembayaran dividen. Menurut kajian Mega Capital Sekuritas, repatriasi dividen pada bulan ini diperkirakan bisa mencapai Rp 34,2 triliun. Perhitungan ini berdasarkan estimasi 53% emiten teratas di Bursa Efek Indonesia (BEI).

“Potensi repatriasi dividen selama periode April-Juli bisa mencapai Rp 75,3 triliun. Jadi, tidak heran rupiah menyentuh level Rp 17.500/US$ bulan ini,” sebut riset itu.

(aji)

No more pages