Menakar Potensi Indonesia Bertahan di Kategori Emerging Market
Cahya Puteri Abdi Rabbi
16 May 2026 09:30

Bloomberg Technoz, Jakarta - Status Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Market kembali disorot setelah sebanyak 18 saham Indonesia dikeluarkan dalam rebalancing Mei 2026. Kondisi ini memunculkan pertanyaan terkait daya tahan Indonesia di kategori emerging market, sekaligus arah strategi investor ke depan.
Secara umum, Indonesia dinilai masih memiliki peluang untuk mempertahankan statusnya dalam waktu dekat. Namun, tekanan terhadap bobot Indonesia dalam indeks diperkirakan tetap ada, seiring evaluasi MSCI terhadap likuiditas, aksesibilitas pasar, serta transparansi emiten.
Managing Director Research Samuel Sekuritas, Harry Su menyebut bahwa Indonesia tidak berada dalam risiko langsung untuk turun kelas ke frontier market. Dalam jangka menengah, ia melihat adanya potensi peningkatan bobot Indonesia, terutama jika terjadi perubahan komposisi di tingkat global.
“Tentunya otoritas pasar modal perlu meningkatkan tata kelola perusahaan (GCG) dan transparansi perusahaan-perusahaan Indonesia, khususnya terkait free float dan ultimate beneficial owners (UBO),” kata Harry saat dihubungi, dikutip Jumat (15/5/2026).
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama menilai penurunan bobot Indonesia dalam MSCI merupakan konsekuensi yang sulit dihindari dalam jangka pendek. Hal ini berkaitan dengan faktor struktural pasar domestik yang masih perlu diperkuat, terutama dari sisi likuiditas dan kemudahan akses bagi investor global.



























