Dari sisi sumber daya, China juga menduduki peringkat pertama dengan besar sumber daya sebanyak 167,35 metrik ton (Mt REO), lalu Brasil 52,6 Mt REO, Australia sebesar 47,81 Mt REO, diikuti Rusia sebanyak 47,81 Mt REO dan Greenland pemilik sumber daya sebesar 43,03 Mt REO.
Adapun, menurut Irwandy, salah satu jenis LTJ penting yang dibutuhkan dunia dan saat ini masih dikuasai China adalah Neodimium (Nd).
LTJ ini dikenal karena menghasilkan magnet permanen terkuat di dunia yang bermanfaat untuk produksi kendaraan listrik, turbin angin, hingga hard drive pada komputer.
“China juga menguasai pasokan Nd di dunia, sehingga kalau ada pembatasan ekspor akan memicu krisis pasokan jenis LTJ ini,” tambahnya.
Peningkatan produksi motor dan mobil listrik, ungkap Irwandy, juga mendorong peningkatan permintaan Neodimium. Dalam catatannya, permintaan magnet yang bersumber dari Neodimium dalam kurun waktu 2020 hingga 2030 diprediksi bisa meningkat hingga delapan kali lipat.
Sebelumnya, Bloomberg Economics mencatat China saat ini menguasai sekitar 83% produksi tambang rare earth dunia, 91% pemisahan REO, dan 94% manufaktur magnet rare earth global.
Posisi dominan itu bukan dibangun dalam waktu singkat, tapi dari proses subsidi yang dilakukan dalam kurun waktu yang lama, kebijakan industri yang agresif, serta adanya pengembangan basis manufaktur domestik selama beberapa dekade.
Hal yang membuat posisi China semakin sulit digoyang adalah skala permintaan domestiknya sendiri. Setidaknya, lebih dari 70% produksi rare earth China diserap pasar dalam negeri untuk menopang industri semikonduktor, kendaraan listrik, energi hijau, petrokimia, hingga baja.
Artinya, China tidak hanya menguasai bahan baku, tetapi juga rantai nilai tambahnya.
"Permintaan domestik yang besar memungkinkan China membangun rantai pasok yang efisien untuk material yang di negara lain mungkin hanya menjadi pasar niche," sebut Megan O'Neil, analis Geoekonomi Bloomberg Economics, dalam catatannya, Jumat (8/5/2026).
Kondisi ini dianggap menjadi tantangan besar bagi Amerika Serikat (AS) dan sekutunya yang kini berupaya mengurangi ketergantungan terhadap China.
(smr/ros)





























