Logo Bloomberg Technoz

Implementasi Terbatas

Syafruddin memandang masifikasi CNG melalui tabung 3 kg lebih masuk akal jika diimplementasikan secara terbatas terlebih dahulu.

Misalnya; di wilayah dekat sumber gas, kawasan industri kecil, sentra transportasi publik, dan daerah dengan infrastruktur pengisian yang memadai.

Dengan demikian, dirinya memandang CNG 3 kg lebih tepat jika diposisikan sebagai opsi alternatif LPG 3 kg, alih-alih pengganti langsung Gas Melon.

“Strategi alternatif memberi ruang bagi masyarakat untuk memilih energi yang paling sesuai dengan akses, harga, keamanan, dan kebiasaan penggunaan. Pendekatan ini juga mengurangi risiko penolakan sosial,” tegas dia.

Bagaimanapun, kata Syafruddin, program masifikasi pemanfaatan CNG dapat menjadi instrumen diversifikasi energi, terutama untuk menekan ketergantungan pada LPG impor dan memperkuat pemanfaatan gas domestik.

“Dengan cara itu, CNG tetap memberi manfaat fiskal dan makroekonomi melalui penghematan subsidi, penurunan impor LPG, serta peningkatan ketahanan energi, tanpa menciptakan guncangan besar pada pola konsumsi masyarakat,” ucap dia.

“Program yang baik perlu membangun permintaan secara bertahap, bukan memaksa perubahan sebelum infrastruktur siap,” tegas Syafruddin.

Adapun, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) hari ini menyatakan CNG 3 kg tidak akan dicanangkan untuk menggantikan LPG 3 kg bersubsidi.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan masifikasi CNG melalui pengembangan tabung 3 kg bakal dilakukan secara bertahap dan belum direncanakan dikembangkan sangat masif untuk menggantikan Gas Melon.

“Sebenarnya alternatif dan pengganti kan artinya sama ya. Cuma kalau kita bilang pengganti itu masif sama besar, kalau alternatif kita ada tahapan-tahapannya. [Kebijakan] yang benar itu kita ada tahapan-tahapannya,” kata Laode kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Rabu (13/5/2026).

Dia mengungkapkan pada tahun ini Kementerian ESDM bakal meluncurkan sejumlah proyek percontohan atau pilot project pemanfaatan CNG dalam tabung 3 kg.

Setala, juru bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menegaskan masifikasi pemanfaatan CNG dilakukan agar terdapat opsi alternatif sumber energi yang bisa digunakan oleh masyarakat.

Langkah tersebut diharapkan bisa mengurangi ketergantungan impor LPG Indonesia, yang saat ini besarannya hampir sekitar 80% dari total konsumsi nasional.

“Betul [bukan untuk menggantikan LPG 3 kg secara keseluruhan]. Prinsipnya CNG diharapkan bisa menjadi alternatif untuk bisa mengurangi ketergantungan pada LPG yang notebene hampir 80%-nya masih impor,” kata Anggia ketika dihubungi, Rabu (13/5/2026).

Saat ini, Kementerian ESDM sedang mengkaji penggunaan tabung CNG tipe 4, yakni tabung dengan bahan plastik atau polimer dan dibungkus dengan komposit atau carbon fiber serta fiberglass untuk digunakan sebagai bahan tabung CNG 3 kg.

Pengembangan tabung CNG dengan volume 3 kg tersebut diklaim memakan waktu 3 bulan, setelah itu produksi tabung CNG 3 kg bakal dimasifkan sehingga dapat segera digunakan masyarakat.

Kementerian ESDM juga memastikan penggunaan CNG dalam tabung 3 kg untuk kebutuhan rumah tangga tidak memerlukan penggantian kompor. Dengan begitu, kompor LPG yang saat ini digunakan masyarakat dapat langsung menggunakan CNG.

Nantinya, masyarakat tak perlu menyesuaikan kompor yang dimiliki dengan memasang pengonversi (converter) atau alat lainnya.

Berdasarkan penjelasan Kementerian ESDM, CNG merupakan bahan bakar gas yang dibuat dengan mengompresi gas alam yang terdiri dari C1 atau metana dan C2 atau etana.

Kemudian, CNG disimpan dan didistribusikan dalam bejana tekanan atau tabung pada tekanan tinggi, antara 200 hingga 250 bar (setara 2.900 hingga 3.600 psi).

Ketahanan tabung juga diklaim dapat mencapai 650 baru atau 9.427 psi. Dengan begitu, tabung CNG bakal memiliki toleransi yang besar untuk kebutuhan keamanan.

(azr/wdh)

No more pages