Kapal ini memiliki panjang 105 meter ini memiliki kemampuan operasi hingga 60 hari pelayaran serta mampu melaksanakan survei dari perairan dangkal hingga kedalaman laut mencapai 11.000 meter.
Kapal survei ini dilengkapi dengan sensor-sensor yang berasal dari negara-negara di Eropa. Namun, Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dari kapal ini sudah mencapai hampir 60%.
KRI Canopus-936 juga dilengkapi dengan Autonomous Underwater Vehicle (AUV), Remotely Operated Vehicle (ROV), Autonomous Surface Vehicle (AUV) serta Unmanned Aerial Vehicle (UAV).
Calon Misi
Ali menjelaskan kapal ini bakal digunakan untuk memperkuat kemampuan survei, pemetaan, dan pengelolaan data kelautan nasional.
Nantinya, kapal ini juga akan bisa digunakan untuk melaksanakan operasi pencarian dan penyelamatan atau search and rescue (SAR). Hal ini bakal dilakukan usai kapal selam penyelamatan (submarine rescue vessel) buatan Inggris ditempatkan secara menetap di KRI Canopus-936. Rencananya, kapal selam penyelamatan itu bakal tiba pada Juni 2027.
Terakhir, KRI Canopus-936 juga bakal melaksanakan ekspedisi Jala Citra. Ini merupakan kegiatan untuk mendukung percepatan pengumpulan data dan informasi kebumian dan kelautan serta mewujudkan kedaulatan data dan informasi perairan di wilayah timur Indonesia.
Operasi ini juga bertujuan mewujudkan kemandirian riset nasional untuk memperoleh keunggulan data dan informasi kebumian dan kelautan dalam rangka mendukung kepentingan nasional di laut. TNI terakhir kali melaksanakan ekspedisi Jala Citra pada 2023. Kala itu, ekspedisi Jala Citra dilakukan dengan KRI Spica-934 di Laut Flores.
(dov/frg)





























