“[Sebanyak] 50% cekungan itu belum tentu punya potensi, tetapi memerlukan eksplorasi. Tujuannya untuk mengetahui apakah ada atau tidak [sumber daya] migasnya,” tambah dia.
Biaya Mahal
Menurut catatan IPA, masing-masing cekungan di Tanah Air memiliki karakteristik yang berbeda.
Dalam hal ini, eksplorasi di kawasan timur cenderung terkendala infrastruktur yang kurang memadai. Walhasil, biaya awal akan lebih dikeluarkan untuk memperbaiki infrastruktur migas terlebih dahulu.
Sebaliknya, cekungan di bagian barat Indonesia biasanya berhadapan dengan kendala teknis yang membutuhkan teknologi skala besar dan terbaru yang juga lebih mahal.
“Kita membutuhkan kebijakan dari negara ini yang sifatnya konsisten sehingga membuat investasi itu banyak datang untuk mengeksplorasi di daerah-daerah yang saya sebut itu,” ujar Marjolijn.
Kebijakan yang konsisten, lanjutnya, juga sangat diperlukan untuk keberlanjutan investasi migas yang mayoritas masih membutuhkan modal besar.
“Investor di bidang minyak dan gas itu selalu membandingkan iklim investasi di satu negara dan negara lain. Terus dia [investor] memilih, mana yang paling menguntungkan."
Skema fiskal yang membantu keekonomian, kata Marjolijn, serta mendorong fleksibilitas dalam mengambil keputusan dan juga koordinasi yang baik antarkementerian yang membawahi investasi migas tidak kalah penting untuk mendorong eksplorasi di 50% cekungan migas tersebut.
Sebagai tambahan, menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), lebih dari 50% cekungan migas yang belum dieksplorasi berada di kawasan Indonesia bagian timur.
Adapun, untuk mendukung target produksi minyak 1 juta barel per hari dan gas 12 miliar kaki kubik pada 2029, Kementerian ESDM tercatat telah merencanakan lelang sebanyak 110 wilayah kerja (WK) migas sepanjang 2026.
(smr/wdh)






























