Logo Bloomberg Technoz

Saham–saham perindustrian, saham infrastruktur, dan saham kesehatan menjadi pemberat IHSG dengan melemah mencapai 3,44%, 2,89% dan 2,23%.

Adapun saham perindustrian yang terbenam di zona merah adalah, saham PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) amblas 7,11%, saham PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) jatuh 5,45%. Saham PT United Tractors Tbk (UNTR) drop 2,48%.

Saham–saham LQ45 juga terbenam dan bergerak pada teritori negatif i.a, saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) drop 4,04%, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) melemah 3,78%. Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) terdepresiasi 3,56%.

Senada, saham unggulan berikut turut menjadi pemberat IHSG, saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) terpeleset 3,25%, saham PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) kehilangan 3,11%. Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) melemah 2,66%

Pelemahan sejumlah saham didorong oleh sentimen retail sales yang melambat, di mana data penjualan ritel Indonesia per Maret 2026 mencatat kenaikan 3,4% year–on–year/yoy, lebih rendah dari capaian 6,5% pada Februari 2026. 

“Kondisi ini tecermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Maret 2026 yang tercatat sebesar 256,7 atau tumbuh 3,4% yoy, tidak setinggi pertumbuhan pada Februari 2026 yaitu sebesar 6,5% yoy,” tulis laporan Bank Indonesia dalam hasil Survei Penjualan Eceran terbaru, Selasa.

Pertumbuhan IPR (Bank Indonesia)

Berdasarkan kelompoknya, kinerja penjualan didorong oleh pertumbuhan penjualan pada Kelompok Suku Cadang dan Aksesori yang bertumbuh 15,5% yoy; Barang Budaya dan Rekreasi tumbuh 14,8% yoy; dan Makanan, Minuman, dan Tembakau tumbuh 4,7% yoy.

Terlebih pada April, penjualan ritel diprediksi turun secara bulanan maupun tahunan. Efek dari normalisasi permintaan masyarakat setelah periode Ramadan dan Idul Fitri.

Dari sisi harga, tekanan inflasi tiga dan enam bulan yang akan datang, yaitu Juni dan September, diperkirakan meningkat. Hal ini tecermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Juni dan September 2026, lebih tinggi dibanding dengan IEH Mei dan Agustus 2026, didorong oleh kenaikan harga bahan baku.

Investor turut mencermati performa rupiah yang lesu akibat berbagai tekanan yang mengintai. Padahal angka pertumbuhan ekonomi 5,61% yang di atas estimasi analis dan ekonom, rupiah justru mencatat posisi terendah sepanjang sejarah di Rp17.510/US$.

Tekanan eksternal dalam bentuk ketidakpastian geopolitik hingga mengerek harga minyak mentah, diperparah dengan kondisi dari dalam negeri yang sarat ketidakpastian kebijakan serta dominasi belanja negara sebagai penopang pertumbuhan, membuat investor gelisah dan melepas aset di berdenominasi rupiah. 

Dari global, tensi geopolitik Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran masih memanas, seiring pengumuman terbaru Presiden AS, Donald Trump, menyatakan menyatakan keraguannya terhadap masa depan gencatan senjata dengan Iran. 

Sikap ini muncul menyusul penolakan Trump terhadap tawaran perdamaian terbaru dari Teheran, yang sekaligus memperpanjang penutupan efektif jalur vital Selat Hormuz.

“Kesepakatan damai yang komprehensif tampaknya sulit terwujud,” tulis analis Bloomberg Economics, termasuk Dina Esfandiary dan Becca Wasser, dalam catatan terbarunya.

Di hadapan para jurnalis di Ruang Oval Gedung Putih, Trump menyebut gencatan senjata tersebut saat ini sedang dalam masa kritis sembari mencemooh tanggapan Iran atas proposal penghentian perang yang telah berlangsung selama 10 minggu tersebut, seperti yang dilaporkan Bloomberg News.

(fad)

No more pages