Logo Bloomberg Technoz

Penopang IPR Maret 2026

Lonjakan IPR Maret secara bulanan, terdongkrak oleh penjualan suku cadang dan aksesori kendaraan tumbuh 15,5% yoy pada Maret 2026, naik dari 13,1% pada Februari. Barang budaya dan rekreasi juga tumbuh 14,8% yoy dari sebelumnya 10,1%, sementara makanan, minuman, dan tembakau masih tercatat tumbuh 4,7% yoy meski melambat dari 8,8% pada Februari.

Namun sebaliknya, sektor yang mencerminkan kesehatan daya beli jangka panjang masih lesu. Penjualan peralatan informasi dan komunikasi masih terkontraksi dalam sebesar minus 26,4% yoy pada Maret, bahkan memburuk menjadi minus 27,7% pada April 2026. Penjualan perlengkapan rumah tangga juga masih negatif 3,5% yoy pada Maret sebelum diperkirakan hanya tumbuh tipis 1,4% pada April.

Data ini menunjukkan masyarakat mulai menahan belanja barang sekunder dan tersier. Rumah tangga terlihat masih membeli kebutuhan pokok, sandang, dan kebutuhan mudik, tetapi menunda pembelian elektronik, furnitur, maupun perangkat komunikasi.

Pertumbuhan IPR Kelompok Peralatan Informasi & Komunikasi. (Bank Indonesia).

Sikap masyarakat menahan belanja tersebut, umumnya terjadi kala tekanan ekonomi mulai dirasakan kelas menengah dan sektor informal. Pendapatan tidak tumbuh secara cepat, sementara biaya hidup terus meningkat. 

Risiko Stagflasi

Kondisi saat ini menyebabkan risiko stagflasi kembali muncul. Stagflasi merupakan istilah lama yang kembali muncul di tengah kondisi adanya ancaman inflasi tinggi tetapi pertumbuhan cenderung tersendat (stagnan). 

Risiko stagflasi tercermin dari prakiraan kinerja penjualan April 2026. BI memperkirakan kinerja penjualan eceran pada April 2026 akan mengalami penurunan. IPR diproyeksikan terkontraksi 10% secara bulanan (month-to-month/mtm), anjlok dari pertumbuhan 10,3% pada Maret 2026.

"Penurunan diperkirakan terjadi di seluruh kelompok barang, dengan kontraksi terdalam pada kelompok barang budaya dan rekreasi yang diproyeksikan turun 14,1% mtm, diikuti makanan, minuman, dan tembakau sebesar 10,7% mtm, serta peralatan informasi dan komunikasi sebesar 10,9% mtm," sebut Laporan BI. 

Alarm risiko stagflasi juga mulai terlihat dari meningkatnya ekspektasi harga dalam beberapa bulan ke depan. Survei BI menunjukkan tekanan inflasi diperkirakan menguat pada Juni dan September 2026, namun di saat yang sama ekspektasi penjualan justru melemah.

Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) untuk Juni 2026 yang naik menjadi 175,6 dari sebelumnya 157,4 pada Mei 2026. Sementara IEH September 2026 juga meningkat menjadi 163,2 dari 157,2 pada Agustus 2026.

Kenaikan ekspektasi harga di tengah melambatnya konsumsi menjadi sinyal yang patut diwaspadai. Sebab, kondisi ini menunjukkan tekanan biaya dan inflasi masih meningkat ketika permintaan domestik belum benar-benar pulih.

Data itu selaras dengan data keyakinan konsumen April 2026 yang tercatat turun pada kelompok kelas menengah-bawah dengan pengeluaran di rentang Rp1 juta-Rp4 juta per bulan.

Indeks Ekspektasi Penghasilan per Kelompok Pengeluaran edisi April 2026. (Bank Indonesia)

Pada kelompok pengeluaran Rp1-2 juta, indek ekspektasi penghasilan enam bulan ke depan (IEP) turun menjadi 129,2 pada April, dari posisi sebelumnya 131,1 pada Maret.

Kelompok Rp2,1-Rp3 juta juga turun dari 135,2 menjadi 132,8. Sementara kelompok Rp3,1-Rp4 juta relatif stagnan di kisaran 134. Sebaliknya, optimisme justri meningkat pada kelompok Rp4,1-Rp5 juta dan di atas Rp5 juta. 

Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi mulai terasa lebih berat di lapisan bawah dan menengah bawah. Sedangkan kelompok yang lebih mapan masih memiliki bantalan keuangan yang cukup kuat.

Bagi sektor riil dan ekonomi informal, kelompok pengeluaran di bawah Rp5 juta merupakan mesin utama perputaran ekonomi harian. Mereka umumnya adalah konsumen pasar tradisional, minimarket, warung makan, pengguna transportasi harian, hingga pelanggan e-commerce. 

Ketika kelompok ini mulai menahan konsumsi, dampaknya langsung terasa di lapangan: omzet menurun, perputaran barang cenderung rendah, dan pelaku usaha jadi lebih hati-hati dalam berekspansi.

Ekspektasi Penjualan Turun

Tekanan pada sektor riil juga terlihat dari ekspektasi pelaku usaha. Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) tiga bulan ke depan turun dari 147,2 menjadi 136,8. Sementara ekspektasi enam bulan ke depan turun lebih dalam dari 162,4 menjadi 137,8.

Indeks Ekspektasi Penjualan Tiga dan Enam Bulan yang Akan Datang. (Bank Indonesia)

Di sisi lain, ekspektasi harga justru meningkat. Indeks Ekspektasi Harga Umum tiga bulan naik dari 157,4 menjadi 175,6 dan enam bulan naik dari 157,2 menjadi 163,2. Pelaku usaha menyebut kenaikan harga bahan baku sebagai faktor utama.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa permintaan sedang  melemah, namun biaya produksi naik. Dunia usaha menghadapi tekanan ganda: penjualan melambat sementara margin keuntungan tergerus kenaikan biaya. Selaras dengan alarm stagflasi yang sudah mulai menyala. 

Dampak perang di Timur Tengah telah sampai pada sektor riil. Perang yang menyebabkan kenaikan harga minyak mentah di atas US$100 per barel semakin menekan sektor riil dengan kenaikan harga, dan adanya gangguan pasokan bahan baku industri serta kenaikan harga kemasan plastik.

International Monetary Fund (IMF) bahkan telah mengingatkan bahwa dunia kini berada dalam risiko yang mendekati resesi jika perang Timur Tengah terus berlanjut.

Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, menyampaikan pesan bahwa jika pun perang berhenti hari ini, pemulihan tidak akan datang dengan cepat. Sebab dampaknya telah tertanam dalam sistem ekonomi global.

Bergantung Efek Musiman

Di tengah ketidakpastian geopolitik yang merembet pada perlambatan ekonomi dan risiko resesi, sektor riil domestik saat ini masih bisa bertahan akibat adanya faktor konsumsi musiman yang berperan sebagai penopang pertumbuhan ekonomi. 

Tak heran, jika pada kuartal I-2026 pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61%. Selain tertopang guyuran anggaran belanja pemerintah, kuartal pertama tahun ini juga ada banyak faktor musiman: Imlek, Ramadan, dan Lebaran.

Namun, untuk menopang pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan, Indonesia tak bisa bergantung pada gelontoran fiskal yang mempunya batas. Apalagi defisit kuartal I-2026 telah mencapai Rp240 triliun.

Untuk tetap bisa tumbuh, perekonomian domestik membutuhkan penguatan daya beli riil masyarakat dan pemulihan aktivitas sektor produktif. 

Sayangnya, selain daya beli masyarakat melemah, sektor manufaktur dan padat karya juga saat ini sedang lesu darah. Capaian indeks manufaktur Indonesia versi S&P Global edisi April tercatat anjlok dan sedang berada di zona kontraksi, 49,1. Turun dari posisi sebelumnya, 50,1.

Tren PMI Manufaktur Indonesia (Bloomberg Technoz)

Membutuhkan Insentif

Sektor riil yang sedang berada di zona kontraksi ini membutuhkan insentif yang dapat diperluas. Misalnya industri ritel, manufaktur ringan dan sektor UMKM membutuhkan relaksasi pembiayaan dan kepastian biaya energi, seperti diskon tarif listrik, maupun logistik agar tekanan biaya produksi tidak semakin berat.

Lebih lanjut, pemerintah memang sudah menahan laju inflasi dengan tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Namun, kenaikan harga minyak global yang ditransmisikan pada kenaikan minyak dan LPG nonsubsidi tetap sampai pada kenaikan harga bahan baku, termasuk harga plastik dan biaya transportasi.

Daftar Lengkap Harga LPG Nonsubsidi, Resmi Naik Susul BBM (Bloomberg Technoz/Asfahan)

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut, komponen energi pada Maret 2026 memberikan andil terhadap inflasi tahunan sebesar 0,94%. Harga Dexlite naik dari Rp14.200 menjadi Rp23.600 per liter, dan Pertamina Dex dari Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter.

Sektor logistik umumnya mengandalkan bahan bakar nonsubsidi berjenis Dexlite. Sehingga, angkutan yang mengantar pangan dan barang-barang terdampak langsung pada kenaikan harga BBM nonsubsidi dan menciptakan kenaikan harga pada barang-barang tersebut.

Selain itu, LPG nonsubsidi juga umumnya digunakan oleh sektor riil yang bergerak di industri makanan dan minuman. Sehingga kenaikan harga LPG tabung 5,5 dan 12 kilogram menambah beban operasional pelaku usaha seperti rumah makan, usaha katering, hingga industri makanan skala kecil. 

(dsp/aji)

No more pages