Kondisi ini mengindikasikan bahwa pasar sepertinya melihat persoalan rupiah bukan lagi sekadar volatilitas jangka pendek. Lebih dari itu, pergerakan rupiah pada kuartal II-2026 ini jadi cerminan meningkatnya risiko domestik dan global secara bersamaan.
Pada perdagangan hari ini, rupiah berada di level Rp17.513/US$, setelah melemah 0,58%. Ini merupakan catatan terlemah sepanjang sejarah.
Berdasarkan data BI, kepemilikan SRBI masih didominasi sektor perbankan yang mencapai Rp673,90 triliun. Namun yang paling mencolok adanya lonjakan kepemilikan investor asing/non-residen menjadi Rp192,17 triliun, dari sebelumnya Rp143,91 triliun.
Ini menunjukkan BI kini makin bergantung pada aliran dana asing jangka pendek untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik. Dengan begitu, tak terelakkan bahwa stabilitas rupiah saat ini ditopang oleh instrumen berbunga tinggi.
Meski pada lelang Jumat (8/5/2026), yield SRBI telah diturunkan menjadi 6,4% dari 6,5%.
Di sisi lain, strategi menawarkan yield tinggi demi menarik investor asing juga berpotensi menciptakan tekanan ganda di dalam negeri dalam bentuk perlambatan ekonomi.
Di tengah ketidakpastian dan lesunya permintaan domestik, perbankan lebih memilih memarkirkan dananya pada instrumen ini, alih-alih menyalurkannya dalam bentuk kredit ke sektor riil.
Sepertinya perbankan kini menghadapi pengetatan likuiditas karena dana yang sebelumnya tersedia untuk ekspansi kredit terserap ke instrumen moneter BI, lantaran berimbal hasil tinggi.
Hal ini tercermin pada data uang primer terbaru. Kas bank umum dan BPR bahkan mengalami penurunan lebih dalam, dari Rp140,4 triliun menjadi Rp105,5 triliun. Artinya, cadangan kas fisik perbankan menyusut hampir Rp35 triliun atau anjlok 24,9% dibanding bulan sebelumnya.
Indikator lain juga terlihat pada giro bank umum di Bank Indonesia yang turun drastis dari Rp588,5 triliun menjadi Rp454,2 triliun. Penurunannya mencapai Rp134,4 triliun atau setara kontraksi 22,8% dalam satu bulan. Turunnya giro perbankan di BI juga mengindikasikan adanya perpindahan dana pada instrumen ini.
Pengetatan tersebut sejalan dengan operasi steriliasi yang masih agresif dilakukan BI. Nilai “pengendalian moneter” naik dari Rp757,9 triliun menjadi Rp849,3 triliun pada April. Kenaikannya mencapai Rp91,4 triliun atau tumbuh 12,1% secara bulanan.
Sebagai catatan, SRBI merupakan instrumen moneter yang diterbitkan BI untuk menyerap likuiditas rupiah di pasar keuangan sekaligus menarik aliran modal asing masuk ke pasar domestik. Instrumen ini berbentuk surat berharga berdenominasi rupiah dengan tenor jangka pendek yang bisa diperjual-belikan di pasar sekunder.
Dalam beberapa bulan terakhir, BI semakin agresif menerbitkan SRBI sebagai bagian dari strategi stabilisasi rupiah di tengah tekanan eksternal. Lelang SRBI yang sebelumnya dilakukan sepekan sekali, naik menjadi sepekan dua kali setiap hari Rabu dan Jumat.
(dsp/aji)





























