Logo Bloomberg Technoz

Penipuan AI di Indonesia Naik 1.550%, Deepfake Jadi Senjata Baru

Merinda Faradianti
12 May 2026 08:58

Risiko penipuan digital meningkat dengan ancaman deepfake. dok: Ilustrasi Bloomberg
Risiko penipuan digital meningkat dengan ancaman deepfake. dok: Ilustrasi Bloomberg

Bloomberg Technoz, Jakarta - Teknologi deepfake disebut banyak digunakan untuk menipu sistem keamanan biometrik hingga menyamar sebagai eksekutif perusahaan. Alhasil, insiden fraud berbasis AI di sektor fintech Indonesia melonjak sekitar 1.550% dalam periode 2022–2023, seperti yang dilaporkan whitepaper bertajuk “A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience", dikutip Selasa (12/5/2026).

Lonjakan insiden itu mencerminkan eskalasi ancaman siber yang semakin kompleks di tengah pesatnya pertumbuhan layanan keuangan digital. Pada dokumen whitepaper diterangkan bahwa teknologi deepfake mampu meniru wajah, suara, hingga dokumen palsu untuk menyamar sebagai individu terpercaya.

Serangan ini dinilai berbahaya karena mampu menembus sistem verifikasi identitas digital dan mekanisme biometric liveness detection yang digunakan dalam proses know your customer (KYC).


"Musuh semakin memanfaatkan AI generatif untuk menghasilkan artefak video dan audio deepfake yang sangat meyakinkan yang mampu melewati mekanisme deteksi keaktifan biometrik yang tertanam dalam Know Your Customer (KYC) dan sistem verifikasi identitas digital," tulis laporan tersebut.

Tidak hanya itu, modus CEO fraud atau business email compromise (BEC) kini berkembang lebih canggih melalui teknologi kloning suara berbasis AI.