Di sisi lain, Kresna berpendapat, IHSG belakangan turut ditekan oleh aliran keluar dana asing ke sejumlah developed market dan beberapa pasar di Asia dengan eksposur pada kecerdasan buatan atau AI.
Menurut hitung-hitungan Mandiri Sekuritas, valuasi IHSG dibandingkan dengan indeks di kawasan relatif terdiskon signifikan.
MSCI Indonesia diperdagangkan pada price-to-earnings ratio (PE) di kisaran 11,2, hampir separuh lebih murah dari MSCI AS, India dan developed market lainnya.
Sementara itu, MSCI Indonesia diproyeksikan mencatat pertumbuhan laba per saham (EPS) sebesar 11%.
Apalagi, laporan keuangan sejumlah emiten dengan eksposur besar di indeks memperlihatkan pertumbuhan yang solid pada kuartal I-2026.
“Risiko terhadap earnings terutama di Indeks 80 yang diikuti investor global dan domestik harus kita akui akan mendapat tekanan tambahan mengingat adanya transmisi dari kenaikan harga energi dan turunan petrochemical,” kata Kresna.
Net Sell
Pada perdagangan saham kemarin, Senin 11 Mei 2026, IHSG ditutup di zona merah usai kehilangan 63,78 poin (0,92%) di posisi 6.905.
Saat itu, investor asing gencar melangsungkan jual bersih (net sell) Rp751,15 miliar pada perdagangan saham seluruh pasar. Sama halnya, pada pasar reguler investor asing net sell Rp659,16 miliar.
Adapun investor asing net sell terbesar pada saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencapai Rp334,7 miliar. Imbas tekanan jual yang masif, saham BMRI melemah 8,21% di posisi Rp4.250/saham.
Pelemahan IHSG kemarin turut disebabkan oleh nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang ditutup melemah 0,22% di level Rp17.412/US$ di pasar spot, berdasarkan data Bloomberg, turut jadi pemberat.
Sentimen selanjutnya yang menjadi beban bagi IHSG datang dari isu MSCI. Pengumuman lanjutan menyoal rebalancing indeks MSCI turut jadi perhatian investor, di mana 12 Mei 2026 jadi tanggal penting, dengan tanggal efektifnya adalah 1 Juni 2026.
(naw)



























