Selama ini, Teheran mampu mengendalikan Hormuz sebagian besar melalui penggunaan, atau sekadar ancaman, serangan rudal dan drone murah. Kehadiran kapal selam kerdil ini kemungkinan besar akan menjalankan fungsi serupa.
Salah satu tantangan dalam pengerahan kapal selam itu adalah faktor geografis. Kedalaman Selat Hormuz hanya sekitar 100 meter pada titik terdalamnya, sementara Teluk Persia juga tidak jauh lebih dalam. Kondisi tersebut membuat kapal selam lebih sulit bersembunyi, bahkan saat diam, karena sonar aktif dapat mendeteksi objek yang dianggap tidak alami.
Menurut Tasnim, kapal selam Ghadir “secara khusus dirancang” untuk beroperasi di jalur perairan dangkal seperti Selat Hormuz.
Hingga kini, tidak ada kapal selam Iran yang terlibat langsung dalam pertempuran selama perang berlangsung. Satu-satunya kapal selam besar operasional milik Iran—kapal kelas Kilo era Soviet—dilaporkan tenggelam di dermaga tempat kapal tersebut bersandar.
Kapal selam Ghadir berukuran jauh lebih kecil dengan kapasitas perpindahan air hanya sekitar 115 ton, ukuran standar yang digunakan untuk kapal selam. Sebagai perbandingan, kapal selam kelas Kilo memiliki kapasitas lebih dari 2.000 ton, sementara kapal selam serang bertenaga nuklir kelas Los Angeles milik AS memiliki kapasitas lebih dari 6.000 ton.
Kapal selam mini umumnya digunakan untuk pertahanan pesisir karena tidak memiliki daya tahan untuk pelayaran jarak jauh dan tidak mampu menyelam sedalam kapal yang lebih besar. Kapal selam Iran tersebut dikembangkan di dalam negeri, dengan pengumuman resmi pertama produksinya dilakukan pada 2005.
Sumber tersebut mengatakan kapal selam Ghadir merupakan salinan desain Korea Utara.
AS dan Israel mengklaim hampir seluruh armada laut Iran telah dihancurkan. Namun, kapal-kapal kecil Iran dilaporkan dua kali menyerang kapal AS yang melintasi Selat Hormuz dalam sepekan terakhir.
Komando Pusat AS menyatakan pihaknya berhasil menggagalkan sejumlah serangan tersebut. Meski begitu, lalu lintas kapal tanker komersial masih tetap sangat terganggu.
“Selain sebagai faktor penangkal umum, risiko utamanya adalah penebaran ranjau laut,” kata Emma Salisbury. “Jika saya berada di pihak Iran dan ingin menunjukkan kekuatan besar, saya akan menggunakan kapal selam ini bersama kapal serang cepat dan drone untuk melakukan serangan berkerumun terhadap kapal perang AS, tetapi itu tergantung seberapa jauh mereka siap mempertaruhkan keselamatan awaknya.”
(bbn)



























